Berikut kami akan nukilkan beberapa ucapan dan keyakinan sesat dan kufur dari
tokoh-tokoh yang sangat diagungkan oleh orang-orang ahli tasawuf, yang
menunjukkan besarnya penyimpangan ajaran ini dan sangat jauhnya ajaran ini dari
petunjuk Al Quran dan As Sunnah.
Pertama, Ibnu Al Faridh yang
binasa pada tahun 632 H, tokoh besar sufi yang menganut paham
Wihdatul Wujud dan meyakini bahwa seorang hamba bisa menjadi Tuhan,
bahkan -yang lebih kotor lagi- dia menggambarkan sifat-sifat Tuhannya seperti
sifat-sifat wanita, sampai-sampai dia menganggap bahwa Tuhannya telah
menampakkan diri di hadapan Nabi Adam ‘alaihi salam dalam bentuk Hawwa (istri Nabi Adam ‘alaihi salam)?! Untuk lebih jelas silakan merujuk pada kitab Hadzihi Hiya Ash Shufiyyah (hal. 24-33), tulisan Syaikh
Abdurrahman al Wakil yang menukil ucapan-ucapan kufur Ibnu Al Faridh
ini.
Kedua, Ibnu ‘Arabi dalam kitabnya
Fushushul Hikam yang berisi segudang kesesatan dan kekufuran. Dalam
kitabnya ini dia mengatakan bahwa Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lah yang memberikan padanya kitab ini, dan beliau
shallallahu ‘alaihi wa
sallam berkata kepadanya:
“Bawalah dan sebarkanlah
kitab ini pada manusia agar mereka mengambil manfaat darinya”, kemudian Ibnu ‘Arabi berkata:
“Maka aku pun (segera)
mewujudkan keinginan (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) itu seperti yang
beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tentukan padaku tidak lebih dan tidak
kurang.”
Kemudian Ibnu ‘Arabi berkata:
(Kitab
ini) dari Allah, maka dengarkanlah!
dan kepada Allah kembalilah!
dan kepada Allah kembalilah!
(Fushushul
Hikam, dengan perantaraan
kitab Hadzihi Hiya Ash
Shufiyyah hal.
19).
Ketiga, At Tilmisani, seorang
tokoh besar tasawuf, ketika dikatakan padanya bahwa kitab rujukan mereka
Fushushul Hikam bertentangan dengan Al Quran, dia malah menjawab,
“Seluruh isi Al Quran adalah
kesyirikan, dan sesungguhnya Tauhid hanya ada pada ucapan
kami.” Maka dikatakan lagi
kepadanya, “Kalau kalian
mengatakan bahwa seluruh yang ada (di alam semesta) adalah satu (esa), mengapa
seorang istri halal untuk disetubuhi, sedangkan saudara wanita haram
(disetubuhi)?” Maka dia menjawab,
“Menurut kami semuanya
(istri dan saudara wanita) halal (untuk disetubuhi), akan tetapi orang-orang
yang terhalang dari penyaksian keesaan seluruh alam mengatakan bahwa saudara
wanita haram (disetubuhi), maka kami pun ikut-ikut mengatakan
haram.” (Dinukil oleh Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyyah, lihat Majmu’ul
Fatawa 13/186).
Keempat, Abu Yazid Al Busthami,
yang pernah berkata: “Aku
heran terhadap orang yang telah mengenal Allah, mengapa dia tetap beribadah
kepada-Nya?!”
(Dinukil oleh Abu Nu’aim Al Ashbahani
dalam kitabnya Hilyatul Auliya’ 10/37). Dia juga berkata,
“Sungguh aku telah menghimpun amalan ibadah seluruh
penghuni tujuh langit dan tujuh bumi, kemudian aku masukkan ke dalam bantal dan
aku letakkan di bawah pipiku.”
(Hilyatul Auliya’ 10/35-36).
Kelima, Abu Hamid Al Ghazali,
seorang yang termasuk tokoh-tokoh ahli tasawuf yang paling besar dan tenar, di
dalam kitabnya Ihya
‘Ulumud Din ketika dia
membicarakan tingkatan-tingkatan dalam tauhid, dia mengatakan,
“Dalam Tauhid ada empat tingkatan: …Tingkatan yang
kedua: Dengan membenarkan makna lafadz di dalam hati sebagaimana yang dilakukan
oleh umumnya kaum muslimin, dan ini adalah keyakinannya orang-orang awam?!
Tingkatan yang ketiga: Mempersaksikan makna tersebut dengan jalan Al Kasyf
(penyingkapan tabir) melalui perantaraan cahaya Al Haq (Allah ‘Azza wa Jalla )
dan ini adalah tingkatan Al Muqarrabin, yaitu dengan seseorang melihat banyaknya
makhluk (di alam semesta), akan tetapi dia melihat semuanya bersumber dari Zat
Yang Maha Tunggal lagi Maha Perkasa, dan tingkatan yang keempat: Dengan tidak
menyaksikan di alam semesta ini kecuali satu zat yang esa, dan ini merupakan
penyaksian para Shiddiqin, dan diistilahkan oleh orang ahli tasawuf dengan
sebutan: Al Fana’ Fit Tauhid (telah melebur dalam tauhid/pengesaan) karena dia
tidak melihat kecuali satu, bahkan dia tidak melihat dirinya sendiri… Dan inilah
puncak tertinggi dalam tauhid. Jika anda bertanya bagaimana mungkin seseorang
tidak melihat kecuali hanya satu saja, padahal dia melihat langit, bumi dan
semua benda-benda yang benar-benar nyata, dan itu banyak sekali? dan bagaimana
sesuatu yang banyak menjadi hanya satu? Ketahuilah bahwa ini adalah puncak ilmu
Mukasyafat (tersingkapnya tabir) (maksudnya adalah cerita bohong orang-orang
ahli Tasawuf yang bersumber dari bisikan jiwa dan perasaan mereka, yang sama
sekali tidak berdasarkan Al Quran dan As Sunnah, -pen), dan rahasia-rahasia ilmu
ini tidak boleh ditulis dalam sebuah kitab, karena orang-orang yang telah
mencapai tingkatan Ma’rifah berkata bahwa membocorkan rahasia ketuhanan adalah
kekafiran. Sebagaimana seorang manusia dikatakan banyak bila anda melihat
rohnya, jasad, sendi-sendi, urat-urat, tulang belulang dan isi perutnya, padahal
dari sudut pandang lain dikatakan dia adalah satu manusia.” (Lihat kitab Ihya ‘Ulumud
Din 4/241-242).
Al Ghazali juga berkata,
“Pandangan terhadap tauhid jenis pertama, yaitu pandangan tauhid yang murni,
dengan pandangan ini, Anda pasti akan dikenalkan bahwa Dialah yang bersyukur dan
disyukuri, dan Dialah yang mencintai dan dicintai, ini adalah pandangan orang
yang meyakini bahwa tidaklah ada di alam semesta ini melainkan Dia (Allah
‘Azza wa Jalla ).” (Ibid 4/83).
Keenam, Asy Sya’rani, seorang
tokoh besar tasawuf yang telah menulis sebuah kitab yang berjudul
Ath Thabaqat Al Kubra, yang memuat biografi tokoh-tokoh ahli tasawuf dan
kisah-kisah (kotor) yang dianggap oleh orang-orang ahli tasawuf sebagai tanda
kewalian. Di antaranya kisah seorang wali(?) yang bernama Ibrahim Al ‘Uryan,
orang ini bila naik mimbar dan berceramah selalu dalam keadaan telanjang bulat!?
(Lihat At Thabaqat Al
Kubra 2/124).
Kisah lainnya tentang seorang (wali
Setan) yang bernama Syaikh Al Wuhaisyi yang bertempat tinggal di rumah
pelacuran, yang mana setiap ada orang yang selesai berbuat zina, dan hendak
meninggalkan tempat tersebut, dia berkata kepadanya: “Tunggulah sebentar hingga aku selesai memberikan
syafaat untukmu sebelum engkau meninggalkan tempat
ini!?” Dan diantara kisah
tentang orang ini: bahwa setiap kali ada seorang pemuka agama setempat sedang
menunggang keledai, dia memerintahkannya untuk segera turun, lalu berkata
kepadanya: “Peganglah kepala keledaimu, agar aku dapat
melampiaskan birahiku padanya!?”
(Lihat
At Thabaqat Al
Kubra
2/129-130).
*****
HAKIKAT TASAWUF
Oleh :Ustadz Abdullah Taslim, Lc.
(Mahasiswa S2 Pasca Sarjana Universitas Islam Madinah)
Kunjungi juga:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar