Alhamdulillaahi Robbil 'Aalamien. Pembahasan yang
diawali dengan menegaskan ketatnya penjagaan aqidah Islamiyah, kemudian bahaya
bid'ah, dan diteruskan dengan aneka borok-borok orang shufi atau ajaran
tasawwuf, kini sampai akhirnya kami tutup pembahasan
ini.
Penjelasan-penjelasan telah kami sampaikan dengan mengutip berbagai sumber yang punya landasan kuat dari Al-Quran dan As-Sunnah Shahihah guna membuktikan mana yang benar dan mana yang batil.
Para hamba Allah yang mendapat rahmat hidayah, insya Allah akan mendapatkan apa yang dijanjikanNya. Sebagaimana Allah mengkhabarkan dengan firman-Nya:
"Maka sampaikanlah khabar gembira kepada hamba-hamba-Ku, yang
mendengar perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka
itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah
orang-orang yang mempunyai akal." (QS Az-Zumar/39:
17-18).
Sebaliknya, apabila sudah ada penjelasan yang benar dan
shahih, yaitu berlandaskan Al-Quran dan as-Sunnah Shahihah dengan manhaj
(jalan) yang shahih pula, yakni manhaj salaf yang telah ditempuh oleh generasi
awal Islam yakni sahabat, tabi'in, dan tabi'it tabi'ien; namun mereka tetap
memegangi ajaran atau kebiasaan yang tidak sesuai dengan kebenaran Islam, maka
kecaman dan ancaman Allah pun mengarah kepada mereka sebagaimana ditujukan
kepada orang-orang sebelumnya. Allah berfirman:
Dan demikianlah, kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi
peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di
negeri itu berkata: "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu
agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak
mereka."
Rasul itu berkara: "Apakah (kamu akan mengikutinya
juga) sekalipun aku membawa untukmu (agama) yang lebih (nyata) memberi
petunjuk daripada apa yang kamu dapati bapak-bapakmu menganutnya?"
Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami mengingkari agama
yang kamu diutus untuk menyampaikannya." (Az-Zukhruf/
43:23-24).
Al-Ustadz
Umar Hubeis dalam bukunya Fatawa, berkomentar, "Maka barangsiapa yang menolak
keterangan yang jelas dari Al-Quran atau dari hadits shahih, dianggap mengikuti
jejak mereka itu dan akan dijatuhi hukuman yang setimpal dan akan dimasukkan ke
neraka, dan di sana kelak akan merasa betapa besar dosa orang-orang yang
menyia-nyiakan akal mereka dan mereka akan berkata:
“Dan Mereka berkata: "Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan
(peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang
menyala-nyala." (QS Al-Mulk/ 67:10).
Sedang
pada Surah Al-Ahzaab, Allah mengabarkan bahwa mereka akan berkata
pula:
"Dan mereka berkata: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami
telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka
menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada
mereka adzab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar."
(Al-Ahzab/ 33:67-68).
Begitulah
nasib orang yang ikut-ikutan tanpa pengertian, hanya terdorong oleh ta'aashub,
fanatisme semata-mata. (Umar Hubeis, Fatawa, PP Al-Irsyad Al-Islamiyah Jakarta,
cet kedelapan, 1994, hal. 21).
Cukuplah
sudah keterangan-keterangan yang menjelaskan bahwa apapun yang tidak sesuai
dengan Al-Quran dan As-Sunnah Shahihah maka wajib ditinggalkan atau ditolak.
Bila
seseorang tetap mengikuti ajaran yang bertentangan atau tak sesuai dengan
Al-Quran dan as-Sunnah Shahihah maka akibatnya akan menyesal dan merugi di
akherat, walaupun di dunia kemungkinan justru banyak temannya, banyak
pengikutnya, atau banyak pelindung-pelindungnya yang mengayomi atau
mempertahankan kesesatan itu. Wabil khusus/ lebih-lebih bagi para pemrakarsa
danpendukung
utama serta penganjurnya, maka akan menerima balasan dari Allah yang setimpal
dengan kebangkangannya, dan mendapatkan la'nat dari para pengikutnya yang mereka
sesatkan.
Perintah
untuk tetap memegang teguh Al-Quran dan As-Sunnah Shahihah ditegaskan dalam
Al-Quran dan As-Sunah dalam beberapa penegasan, sehingga tidak bisa diragukan
lagi. Bahkan, ketika Nabi SAW berkhutbah pada haji wada' (pamitan) pun
menegaskan:
Innas syaithoona qod yaisa an yu'bada bi ardhikum
walaakin rodhiya an yuthoo'a fiimaa siwaa dzaalika mimmaa tahaaqoruuna min
a'maalikum fahdzaruu innii taroktu fiikum maa ini'tashomtum bihii falan
tadhilluu abadan kitaabulloohi wa sunnati nabiyyihi.
(Al-Hakim)
"Sesungguhnya syaitan telah berputus asa untuk disembah
di bumimu ini, tetapi senang ditaati pada sesuatu yang lain daripada
(penyembahan) itu dari apa yang menyia-nyiakan amal-amalmu, maka waspadalah.
Sesungguhnya aku telah meninggalkan padamu sesuatu, kalau kamu sekalian
berpegang teguh kepadanya maka kamu tidak akan sesat selama-lamanya, yaitu kitab
Allah (Al-Quran) dan sunnah nabiNya (Al-Hadits)." (HR
Al-Hakim).
Apabila
ada yang berkilah bahwa kini sulit untuk mengikuti Al-Quran dan As-Sunnah karena
banyak tantangan dan godaan, maka tingkat kesulitan itupun dihargai oleh Allah,
sebagaimana diriwayatkan dalam hadits:Abu Hurairah berkata, bahwa Rasulullah
SAW bersabda:
Man tamassaka bisunnatii 'inda fasaadi ummatii falahu ajru miata syahiid."
Man tamassaka bisunnatii 'inda fasaadi ummatii falahu ajru miata syahiid."
Barangsiapa yang berpegang teguh dengan sunnahku di kala
kerusakan umatku, maka baginya ganjaran 100 syahid/ mati dalam perang jihad.
(HR At-Thabrani dan Al-Baihaqi).
Akhirnya,
hanya kepada Allah lah kami bertawakkal, dan hanya kepadaNyalah kami memohon
pertolongan. Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa dan kesalahan kami, hamba yang
lemah ini.
Amien.
Tasawuf Belitan Iblis
- H Hartono Ahmad Jaiz –
Kunjungi juga:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar