“Adalah salah satu malapetaka yang turun di halaman
kita kaum muslimin bahwa para sultan itu telah memperoleh ratusan ulama berwatak
busuk yang bersedia menjual agama mereka untuk mendapat imbalan harta melimpah
dan kedudukan yang hina -, dan cepat-cepatlah para ulama yang busuk hati itu
memberikan fatwa bahwa para penguasa kita itu adalah para wali dan khulafa’ yang
wajib ditaati dan haram menyalahi mereka. Mentaati mereka termasuk mentaati
Allah SWT dan Rasul-Nya, dan bahwa mendurhakai mereka adalah berarti mendurhakai
Allah SWT dan rasul-Nya.
Dan teruslah ulama busuk itu menipu manusia dengan
fatwa-fatwa ini, dan tidak cukup dengan itu, bahkan mereka tidak membiarkan satu
perbuatan pun berlalu dari para penguasa melainkan memberikan fatwa bahwa
perbuatan itu halal atau ketaatan ataupun kewajiban setiap gerak, setiap diam,
setiap isyarat. Setiap kata dan setiap perbuatan penguasa mereka berikan dengan
cepat sebuah fatwa untuk memantapkannya, memperkuatnya, mendukungnya dan
mengukuhkannya bahwa hal itu adalah kebenaran, sasaran syara’, inti dan
hakekatnya.
Sekiranya urusan itu bukanlah masalah serius dan
gawat, tentulah kita mentertawakan fatwa-fatwa mereka yang saling bertabrakan
itu. Sekiranya yang rusak dan dinodai kehormatannya itu bukanlah agama, tentulah
kita tertawa geli karena keberanian dan tindakan tak tahu malu mereka. Mereka
memfatwakan sesuatu dan kebalikannya memberikan fatwa, lawan mereka telah
memfatwakan bahwa perdamaian dengan Yahudi itu haram menurut syara’, dan menjual
tanah kepada mereka atau membantu mereka dengan bantuan paling kecil atau
berhubungan dagang dengan mereka itu adalah kafir dan murtad.
Setelah politik berubah dan pemerintah kita (Mesir)
berdamai dengan yahudi, berbaliklah fatwa-fatwa itu dan berkata bahwa perdamaian
ini adalah boleh bahkan wajib, dan bahwa perdamaian ini seperti perdamaian
Hudaibiyah! Sedangkan sebelumnya mereka telah memberikan fatwa bahwa Islam
adalah agama sosialis. Setelah pemerintah kita menghadap kearah barat dan
memalingkan wajah mereka ke arah Gedung Putih (Amerika), berbelitlah fatwa-fatwa
itu pada pangkalnya dan mengatakan bahwa Islam itu agama kebebasan ekonomi,
politik dan kemasyarakatan, dan bahwa Islam adalah musuh bebuyutan bagi
sosialisme dan marxisme.”
Bagaimana gejala itu persisnya dengan keadaan di
Indonesia, bisa tampak benar. Ada ulama-ulama yang dulunya zaman Soekarno Orde
Lama mereka berangkulan dengan PKI. Kata Prof Dr Ir Ahmad Muflih Saefuddin, dulu
KH Idham Chalid orang NU berangkulan dengan Aidit tokoh PKI- Komunis, hingga
terbentuklah Nasakom (Nasional, Agama-NU, dan Komunis-PKI). Tetapi begitu zaman
Orde Baru pimpinan Soeharto membubarkan PKI, maka orang NU berteriak kencang
bahwa NU-lah yang pertama kali mengusulkan pembubaran PKI itu.
Ada pengalaman unik di tempat kami kerja, di koran
Pelita. Waktu Abdurrahman Wahid sudah berhasil membawa-bawa KH As’ad Syamsul
Arifin dari Situbondo Jawa Timur ke Istana menghadap Presiden Soeharto, lalu
Wahid/ Gus Dur tahun 1984 itu bermesraan dengan Golkar dan menginginkan untuk
jadi ketua umum PBNU; maka di koran Pelita itu Gus Dur diberi ruangan khusus
halaman pertama untuk diisi, disebut dengan kolom Sabtu. Isinya sekitar NU dan
sebagainya. Hingar bingar dukungan kepada Golkar dari NU lewat Gus Dur pun
dimulai, maka pemuda Ansornya pun dikerahkan, di antaranya di Pelita untuk
menulis hal-hal yang menunjukkan jasa NU dan kedekatannya dengan perjuangan Orde
Baru. Rupanya saking semangatnya, rekan Ansor inipun menulis, di antaranya
tentang pembubaran PKI. Maka di sana ditulis bahwa yang pertama kali usul agar
PKI dibubarkan adalah pemuda Ansor. Tulisan itu tahu-tahu merupakan senjata
makan tuan. Terjadi “keributan” di kalangan NU, kenapa Ansor mengaku-ngaku
dirinyalah yang mengusulkan pertama kali agar PKI dibubarkan. Lalu anak Ansor
itu entah ditekan atau diapakan oleh “bapaknya” yaitu orang NU, tahu-tahu
hari-hari berikutnya segeralah dijelaskan dengan penjelasan lain lagi, bahwa
yang pertama kali usul agar PKI dibubarkan itu adalah NU. Di sini antara bapak
dan anak (NU dan Ansor) tampaknya berebut tulang, berupa mengaku pihaknya lah
yang paling pertama mengajukan usulan untuk dibubarkannya PKI. Seandainya rekan
Ansor ini mau bengal sedikit, mungkin bisa bilang: Usulan bapak kan tidak sah,
karena dulunya bapak berangkulan dengan PKI. Kalau saya kan tidak.
Hus! Kurangajar!
Untuk mengingatkan sejarah, betapa hampir miripnya
dengan yang disitir Dr Umar Abdurrahman di Mesir tersebut di atas, dan lanjutan
dari cerita kecil tentang NU dan Ansor tersebut, mari kita simak penuturan
berikut ini yang diungkap Media Dakwah:
Sekadar mengingatkan sejarah politik Indonesia, hampir
dua dekade berselang, pada 1984 Abdurrahman Wahid berhasil menduduki kursi ketua
PBNU melalui Muktamar NU di Situbondo. Di sinilah mulai terjalin hubungan
Abdurrahman Wahid dengan rejim Soeharto melalui operatornya Jendral Benny
Moerdani (orang Katolik, pen). Ketua PBNU sebelumnya Dr Idham Chalid berhasil
ditumbangkan. Melalui forum Muktamar NU inilah Abdurrahman Wahid mengikatkan
diri menjadi partner setia rejim Soeharto, khusus Golkar dengan mesin
penggilasnya ABRI (saat itu dipimpin) Benny Moerdani.
NU pertama kali menyatakan persetujuannya terhadap
rencana asas tunggal pancasila yang sangat ditentang ummat Islam. Karena
menolaknya inilah ummat Islam di Tanjung Priok Jakarta memprotes keras.
Akibatnya pecah peristiwa Tanjung Priok September 1984. Orang Islam tahu
keterlibatan Benny Moerdani dalam Kasus Tanjung Priok itu, tapi Abdurrahman
Wahid malah ikut bersama Benny mengutuk ummat Islam Priok, dan memberi jalan
kepada Benny Moerdani mengunjungi pesantren-pesantren se-Jawa sekaligus
meresmikan berbagai mesjid (padahal Benny itu orang Katolik, pen), pada akhir
1984 itu.
Perlu diingat, kepemimpinan di NU yang model itu
menjadikan KH As’ad Syamsul Arifin –Situbondo yang sudah dibawa-bawa ke istana
pun akhirnya memutuskan diri untuk mufaroqoh, memisahkan diri dengan
kepemimpinan Gus Dur. Beliau anggap, Gus Dur ibarat imam sholat yang sudah
kentut, maka tidak pantas diikuti. Konon tersiar berita pula bahwa Gus Dur lebih
pantas jadi Kiyai ketoprak. Istilah Kiyai ketoprak, di Jawa merupakan cemoohan
yang cukup tajam, apalagi hal itu diucapkan oleh kiai sepuh (tua). Ungkapan itu
ternyata di tahun 2001 diulang lagi oleh para demonstran anti Gus Dur di
antaranya dari BEM UI (Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia) bahwa
Gus Dur bisanya hanya humor, maka lebih baik bergabung saja dengan
ketoprak-humor, satu jenis tontonan drama panggung yang sikapnya
cengengesan yang muncul dan populer sejak 1999.
Selanjutnya Media dakwah mengemukakan:
Catatan penting gerakan politik Abdurrahman Wahid
pada Muktamar Situbondo 1984 ialah Nu “kembali ke Khittah 1926”, yakni NU
keluar dari lapangan politik. Khittah 1926 sebetulnya cuma strategi Abdurrahman
Wahid sebagai taktik mendukung rezim Orde Baru alias Golkar dan menggembosi PPP
yang merupakan “rumah politik” warga NU sejak Partai NU berfusi tahun 1973. Pada
Pemilu 1977 dan Pemilu 1982, satu-satunya partai yang bisa menyaingi Golkar cuma
PPP. PPP cenderung membesar dan mengalahkan Golkar di Jakarta dan Aceh. Suara NU
saat itu banyak tercurah ke PPP. Akibat khittah, suara PPP pada Pemilu 1987
anjlok, kursinya turun dari 94 menjadi 62 kursi. Sebaliknya suara Golkar,
dipimpin Sudharmono, naik drastis. Suara NU lari dari PPP ke Golkar karena
Abdurrahman Wahid ikut kampanye memilih Golkar. Hubungan Abdurrahman pun makin
akrab dengan Golkar. Sebagai hadiah, Abdurrahman Wahid diangkat menjadi Anggota
MPR dari Golkar untuk periode 1987-1992 kemudian 1992-1997. Abdurrahman Wahid
kemudian juga tercatat sebagai seorang Manggala BP7 (penatar tafsir pancasila
tingkat tinggi, yang lembaga itu dibubarkan setelah rezim Orde Baru runtuh, pen)
yang menerima sumbangan SDSB untuk PBNU(sumbangan dari lembaga judi tingkat nasional, pen).
Waktu Abduurrahman Wahid jadi anggota MPR dari
Golkar tahun 1987, ialah orang pertama yang memelopori asas tunggal Pancasila.
Ia mengatakan Pancasila merupakan ideologi yang sudah final. Pernyataan ini
sebetulnya sudah dia lontarkan di Muktamar Situbondo. Pemaksaan asas tunggal ini
menunjukkan Abdurrahman Wahid nyata-nyata corong Soeharto dan pemasung kebebasan
berorganisasi. Akibat ulah Wahid, beberapa organisasi terpaksa bubar sementara
seperti Pelajar Islam Indonesia (PII) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pecah
dua sampai sekarang.
Menjelang Pemilu 1997, sapnduk-spanduk Golkar di Jawa
Timur bergambar Abdurrahman Wahid. Tertulis “Gus Dur Mendukung Golkar, “Gus Dur
Lego Lilo Nyoblos No 2 Golkar” (Gus Dur Ikhlas Coblos No. 2 Golkar).
Massa NU yang menghadiri istighotsah juga selalu
,mengelu-elukan Tutut dan Abdurrahman Wahid. Seluruh panggung istighotsah
terhias warna kuning, walaupun tak ada lambang beringin.
Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Jawa Timur diketuai
Drs H Choirul Anam sekarang ketua PKB Jawa Timur, berkali-kali bertemu Tutut
sebelum Pemilu 1997. GP Ansor juga berkali-kali membuat seminar menjadikan Tutut
sebagai pembicaranya. Surat kabar di Surabaya, April 1997, memuat Apel Banser
dalam rangka hari lahir GP Ansor ke-63 menampilkan pidato Tutut, calon pemimpin
masa depan versi Abdurrahman Wahid. Setelah pidato Tutut, bicara Abdurrahman
Wahid yang hadir sekali lagi menyatakan Tutut adalah pemimpin masa depan. Pada
Apel Banser di Lapangan Kodam Brawijaya itu, Tutut menyerahkan bantuan beberapa
mobil Jeep Banser dan pakaian seragam Banser kepada PW GP Ansor Jawa Timur.
Mudah-mudahan PW GP Ansor Jawa Timur tidak lupa bahwa pakaian seragam yang
mereka kenakan adalah hadiah dari Tutut, yang masa itu ketua DPP Golkar. Apakah
layak jika sekarang ini GP Ansor sama Banser menuntut pembubaran Golkar? Belum
lagi, menjelang kampanye 1997, Ketua GP Ansor, Iqbal Assegaf dan Ketua PW GP
Ansor Jatim Choirul Anam meminta dana 2 miliar kepada direktur PLN Djiteng
Marsudi untuk pengamanan Kampanye Golkar Jawa Timur. Djiteng Marsudi hanya
mengabulkan 1 miliar. Hingga kini tak jelas dana itu lari ke mana.
Sejak berbaikan lagi dengan Soeharto 1996,
Abdurrahman Wahid tidak pernah mengkritik Soeharto. Malah ia sering ketemu
diam-diam secara rutin. Saat reformasi dikumandangkan sekitar Maret-April 1998
Abdurrahman Wahid juga bisu. Malahan waktu gerakan mahasiswa menuntut Soehartoi
mundur malahan Abdurrahman Wahid mendukung Soeharto. Dalam pertemuan 10 tokoh
dengan presden 19 Mei 1998 pagi, Abdurrahman wahid, sambil duduk di kursi roda,
mengecam gerakan mahasiswa. Dapat dilihat di TVRI dan seluruh saluran televisi
lain waktu itu, Abdurrahman Wahid mengatakan demonstrasi-demonstrasi itu harus
dihentikan sekarang juga. Distop. Untuk apa demonstrasi-demontsrasi itu.
Mahasiswa yang di senayan itu bubar saja. Belajar di kampus. Tak sedikitpun
kelihatan Abdurrahman ini seorang reformis.
Setelah Soeharto lengser, Abdurrahman ikut mendirikan
Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tanggal 23 Juli 1998. Sejak berdiri itu PKB
tidak pernah (mengkritik) Orde Baru. PKB tak pernah mempersoalkan Soeharto,
apalagi meminta Golkar dibubarkan atau meminta Soeharto diadili. Waktu kampanye
Pemilu 1999 PKB malah lebih keseringan menghujat partai lain terutama PPP. Yang
anti Golkar adalah PDI-P, PAN dan partai lain. Jadi aneh bin ajaib kalau
sekarang massa PKB_NU minta Golkar dibubarkan, terlambat hampir 3
tahun.
Menjelang Sidang Umum Oktober 1999, setidak-tidaknya
Abdurrahman Wahid bertemu Soeharto di Jl Cendana 8. Pertemuan terakhir dua hari
menjelang pemilihan presiden, Abdurrahman secara khusus meminta restu kepada
Soeharto untuk jadi presiden. Soeharto merestui. Abdurrahman bahkan meminta
cinbcin Soeharto yang selama ini tak lepas dari jarinya, Soeharto pun
mengabulkan. Waktu itu Soeharto mendukung Abdurrahman, karena habibie dianggap
berkhianat, sementara Megawati ditakuti balas dendam. Permintaan lain, sebagai
syarat, Soeharto dan keluarga harus mendo’akan ketika pemilihan sedang
berlangsung. Soeharto mengabulkan juga. Menurut Yeni, puteri Abdurrahman,
Soeharto dan keluarga mendo’akan mereka menjelang pemilihan. Yenni bahkan sering
dimintakan tolong bapaknya untuk berhubungan dengan keluarga Cendana melaui
Tutut.
Sewaktu Abdurrahman terpilih jadi presiden, keluarga
cendana langsung sujud syukur. Keluarga Cendana menelepon Abdurrahman via Hand
phone mengucapkan selamat. Abdurrahman tanpa tedengar aling-aling langsung minta
dana RP6 miliar, dan konon disediakan. Cerita ini bukan rumor lagi, dan pernah
dimuat di Majalah Forum Keadilan melalui pernyataan wartawan Sugeng Suparwoto.
Abdurrahman juga minta dibuatkan baju-baju untuk dirinya dan keluarganya.
Di sebuah majalah model luar negeri, Samuel Watimena,
perancang busana, mengaku ia menjahitkan baju-baju Abdurrahman, Siti Nuriyah,
Yenni, dan keluarga presiden yang lain atas pesanan dari Cendana. Samuel
Watimena memang salah seorang perancang baju keluarga Cendana sejak
lama.
Tak heran begitu jadi presiden, Abdurrahman
berkunjung ke Soeharto berkali-kali. Baru belakangan, Abdurrahman mulai berang.
Ia sempat memprovokasi mahasiswa Forkot dan Famred yang getol demo di cendana
untuk melempari rumah Soeharto. Padahal kalau mau adili Soeharto adili saja, kok
repot, apalagi Soeharto jelas bersalah. Abdurrahman malah bertemu terus Soeharto
sejak dia jadi presiden. Ketika Tommy Soeharto diputuskan bersalah dan harus
masuk penjara 18 bulan oleh pengadilan, Abdurrahman Wahid malah cari kesempatan.
Beredar polemik di koran yang mengabarkan Gus dur minta Tommy 15 miliar untuk DP
(uang muka), selebihnya 85 milyar menyusul lewat Kiyai Haji Noer Muhammad
iskandar (alias Kiyai Fulan), Abdurrahman Wahid ketemu Tommy 2 kali di hotel
Borobudur dan Regent Jakarta untuk berdamai (cincai).
Tanggal 1 Februri 2001 Abdurrahman Wahid ditolak 8
fraksi. Sebnyak 393 dari 500 anggota DPR menyatakan Abdurrahman Wahid terlibat
korupsi dana bulog 35 milyar rupiah dan menilep dana serta melakukan kebohongan
publik soal dana dari Sultan Brunei sebesar US dolar 2 juta (19 milyar rupiah).
Anggota DPR yang 500 itu kecuali Fraksi TNI atau Polri 38 orang, adalah hasil
pemilu sah tanggal 7 Juni 1999. Jadi mengapa Abdurrahmn Wahid meminta DPR
dibubarkan? Terlebih lagi, kasus Bulleggate dan Bruneigate ini cuma kasus yang
tertangkap tangan.
Sebegitu gamblang lakon-lakon para kiyai dan tokoh
NU-PKB, baik yang sudah tua maupun yang masih muda atau generasi pemuda Ansor.
Antara duit, pakaian, dan entah apalagi, istilah orang jalanan adalah Sikat
aja bleh! Yang perlu diingat, tentu saja masalah ini hanya khusus
disandang oleh orang-orang yang “doyanan”. Bagi yang tidak ya tidak, walaupun
mereka di NU yang sedang dibicarakan ini. Sebaliknya orang di luar NU yang
doyanan juga banyak. Barangkali ada protes, kenapa hanya NU yang disebut? Maaf,
karena buku ini memang membicarakan seputar NU dan Islam Tradisi. Dan tentang
yang lain, di antaranya juga sudah kami kemukakan, misalnya di buku Di Bawah
Bayang-bayang Soekarno-Soeharto, Tragedi Politik Islam Indonesia dari
Orde Lama hingga Orde Baru, terbitan Darul Falah Jakarta, 1420H. Sampai
Akbar Tanjung pun telah diungkap di sana.
Lakon-lakon yang tidak nggenah (tak sesuai
aturan) itu tempo-tempo diselingi pula dengan obyekan lain yang sampai sangat
melanggar aturan Islam, bahkan menjadi tanaman busuk untuk selama tempat busuk
itu digunakan. Dosanya pun akan tetap mengalir, selama kebusukan itu tetap
berlangsung. Contohnya, KH Hasyim Muzadi ketika jadi ketua PW NU Jawa Timur,
sebelum jadi Ketua Umum PBNU, dia di bulan Juli 1997 pernah menyetujui
lokalisasi pelacuran alias persundalan yang akan dipusatkan di Benowo Surabaya
Barat. Persetujuan yang sama dilakukan pula oleh DPW Muhammadiyah Jawa Timur, KH
Abdurrahim Noer. Menurut mereka itu, tak ada pilihan antara membiarkan pelacuran
dan melokalisasinya, maka atas nama organisasi mereka berdua lalu memilih
lokalisasi pelacuran (disetujui).
Seorang pembaca koran
menulis, kalau diibaratkan, antara merajalelanya garong, begal, penodong dan
maling, maka apakah dipilih didukungnya maling, dengan alasan memilih bahaya
yang terkecil dari dua bahaya? Betapa hancurnya cara berfikir semacam itu dan
betapa rusaknya. Sudah mempermainkan ayat Al-Qur’an yaitu menghalalkan yang
haram, masih pula mempermainkan ilmu ushul fiqh tentang irtikabul
akhofidh dhororoin, mengambil kerusakan yang paling ringan.
Tidak berjangka lama, tingkah Kiyai-kiyai itupun
ditirukan oleh para pemuda dari dua organisasi itu. Ketika ada isu gencar
tentang provokator yang bisa muncul di mana-mana, lalu Pemuda NU yang namanya
Banser atau Ansor di Surabaya bersepakat dengan Pemuda Muhammadiyah Surabaya
pula untuk bersama-sama meronda di tempat-tempat pelacuran/ lokalisasi
pelacuran, Januari 2000.
Baju wira’i kiyai-kiyai doyanan yang model ini
telah dilepas, diganti dengan baju syetan-syetan alas (artinya syetan
hutan alias syetan liar; ada istilah madu lebah hutan alias lebah liar, maka
istilah itu sudah didahului istilah syetan alas, yaitu syetan yang
tingkatan liarnya sudah kebangetan). Maka para pemudanya di kalangan tertentu
pun sudah ikut-ikutan memakai baju syetan alas, walaupun mungkin belum
sempat memakai baju wira’i.
Bagaimana ini kalau generasi berikutnya akan lebih
jelek lagi? Untuk mengantisipasi masalah itu, maka buku ini berupaya
mengingatkan, jangan sampai seperti itu. Kalau toh tidak tercatat seperti di
buku ini, pasti dicatat malaikat, dan nantinya akan dipertanggung jawabkan di
akherat di pengadilan Allah SWT Yang Maha Adil.
Bila Kiyai Menjadi Tuhan
Membedah Faham Keagamaan NU & Islam Tradisional
Oleh : Hartono Ahmad Jaiz
Kunjungi juga:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar