Rabu, 02 September 2015

Kondisi dan Tradisi Kaum Nahdliyin

Kondisi dan sikap kaum Nahdliyin (NU), menurut KH M Yusuf Hasyim Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur sebagai berikut:

“...Ada persepsi di kalangan kaum Nahdliyin, di masa Orde Lama, mereka dipinggirkan, di era Orde Baru, mereka ditindas, bahkan di zaman Gus Dur jadi presiden pun mereka dikuyo-kuyo. Tak heran bila mereka akan melawan habis-habisan setiap usaha menurunkan Gus Dur.” (Harian Republika, Jum’at 9 Maret 2001M, halaman 4, dalam artikel berjudul Politisasi Masjid).

    Ungkapan paman bungsu Gus Dur itu pantas dicermati. Benarkah kaum Nahdliyin (warga NU) di masa Gus Dur jadi presiden mereka dikuyo-kuyo (disakiti atau dibuat menderita)? Lantas benarkah mereka melawan habis-habisan setiap usaha menurunkan Gus Dur itu karena mereka bereaksi dari perlakuan yang merugikan kaum Nahdliyin?

   Tidak ada bukti-bukti yang dijelaskan. Dalam bentuk apa kaum Nahdliyin  itu dikuyo-kuyo di masa pemerintahan Gus Dur. Siapa yang menguyo-nguyo pun tidak disebutkan. Sedangkan mereka dalam membela Gus Dur habis-habisan itu pun tidak pernah menunjukkan bahwa diri mereka dikuyo-kuyo sehingga harus tetap mempertahankan Gus Dur. Seandainya pembelaan terhadap Gus Dur itu karena mereka dikuyo-kuyo, tentunya yang lebih harus ditonjolkan adalah bukti kedhaliman pihak lawan Gus Dur terhadap kaum Nahdliyin. Misalnya, tidak ada yang dibolehkan jadi menteri atau menduduki jabatan perkantoran, atau menyelenggarakan upacara-upacara. Kenyataannya walaupun acara-acara yang mereka selenggarakan banyak  yang mubadzir dan kadang mengakibatkan mudharat, tidak ada yang melarang. Yang terjadi justru sebaliknya. Misalnya, ada pendukung fanatik Gus Dur yang lulusan sastra yaitu DR AS Hikam dijadikan menteri riset dan teknologi. Paling-paling lawan Gus Dur hanya mempersoalkan tidak pasnya penempatan itu, ditambah tidak konsistennya sikap doktor sastra itu. Kenapa? Karena, di zaman pemerintahan Habibie, orang sampai heran, kenapa AS Hikam ini sangat vokal dalam mengkritik Habibie. Hingga hampir tiap hari muncul di televisi atau koran atau radio. Namun, ketika di zaman pemerintahan Gus Dur, dia jadi pembela pemerintah habis-habisan, sampai-sampai bumbu masak ajinomoto yang difatwakan haram oleh MUI karena penyemaian bibit fermentasi (ragi) tempatnya di lemak babi, namun kasus Akhir Ramadhan 1421H, Desember 2000-Januari 20001 itu dinyatakan oleh Gus Dur bahwa ajinomoto itu halal, dan masalahnya selesai; dan pernyataan Gus Dur yang menentang fatwa para ulama itu pun didukung AS Hikam  

   Dengan bukti semacam itu, bukankah bangsa Indonesia, bahkan lawan-lawan Gus Dur pun sebenarnya terlalu “sabar”, hingga tidak langsung menyumpal mulut-mulut Gus Dur, kaum Nahdliyin, dan para pendukungnya –termasuk Dr Jalaluddin Rachmat dedengkot Syi’ah  berkedok tasawuf di Bandung yang membela-bela “fatwa” Gus Dur yang bertentangan dengan MUI. Padahal, dari kalangan pendukung Gus Dur justru ada yang berupaya keras mau menyumpal mulut AM Fatwa tokoh PAN (Partai Amanat Nasional) dengan kaos kaki busuk. Siapakah sebenarnya yang dikuyo-kuyo?  

   Dari sisi lain, orang-orang Nahdliyin yang tampaknya bagai kodok kebanyon (katak mendapatkan air) berpolah tingkah sejadi-jadinya. Tidak puas dengan membuat acara-acara bikinan berupa apa yang mereka sebut Istighotsah, lalu digede-gedekan lagi dengan istilah Istighotsah Kubro mengumpulkan orang untuk membaca-bacaan-bacaan tertentu bareng-bareng dengan suara keras. Padahal di dalam Al-Qur’an, berdo’a itu dengan merendahkan diri tadhoru’, khusyu’ dan tidak bersuara keras. 
   ادعوا ربكم تضرعا وخفية  إنه لا يحب المعتدين.
Berdo’alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (Al-A‘raaf/ 7: 55).
Nabi saw bersabda:
  أيها الناس اربعوا على أنفسكم فإنكم لا تدعون أصم ولا غائبا إنكم تدعون سميعا قريبا وهو معكم. (متفق عليه).
Wahai umat manusia, kasihanilah dirimu dan rendahkanlah suaramu, maka sesungguhnya kamu tidak menyeru Tuhan yang tuli atau yang jauh, sesungguhnya kamu menyeru Tuhan yang Pendengar, dekat, dan Dia menyertai kamu.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).
   Acara bid’ah dan adabnya tidak sesuai Al-Qur’an dan As-Sunnah itu dilaksanakan di berbagai kota, kadang disertai pernyataan-pernyataan yang sifatnya kencang. Sampai-sampai Gus Dur --yang temperamennya marah-marah ketika DPR mencecarnya tentang kenapa Departemen Sosial dan Departemen Penerangan dibubarkan, hingga Gus Dur menjuluki anggota DPR bagai anak TK (Taman Kanak-Kanak) saja--  merasa risih terhadap pendukungnya yaitu kaum Nahdliyin (NU). Maka dalam salah satu acara di Jawa Timur yang model istighotsah atau pernyataan bersama atau entah apalah namanya, Gus Dur sampai menasihati kaum Nahdliyin pendukungnya itu, agar dalam mendukungnya jangan sampai marah-marah. 

    Dengan kenyataan itu bisa dianalisis, seandainya kaum Nahdliyin itu benar dikuyo-kuyo seperti yang ditulis paman Gus Dur yang biasa disebut Pak ‘Ud (Yusuf Hasyim) itu, maka tentunya Gus Dur tidak menasihati seperti itu, tetapi justru agar mereka tetap melawan, atau paling kurang agar sabar menghadapi kuyo-kuyo dari pihak lawan, atau jaminan Gus Dur untuk mengentas mereka dari derita dikuyo-kuyo.
  Setelah kaum Nahdliyin  tidak ada yang menguyo-nguyo walau sampai berpolah tingkah dengan aneka acara bikinan itu, lalu melangkah lebih ngawur dan menentang aturan Allah SWT yang lebih dahsyat lagi yaitu mengadakan upacara yang mereka sebut Indonesia Berdo’a, yaitu acara do’a antar berbagai agama dan aliran kemusyikaan/ kebatinan di Senayan Jakarta, Agustus 2000, diprakarsai langsung oleh ketua umum PBNU Hasyim Muzadi. Padahal, orang NU biasanya shalat maghrib dengan bacaan Surat Al-Kafirun, yang ayat terakhirnya adalah لكم دينكم ولي دين.   Bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Jadi Islam sama sekali tidak mengajarkan untuk mengajak kaum kafirin/ non Islam dengan ujaran “ayo beribadah bersama”. Meskipun mereka hafal ayat al-kafirun itu, namun tampaknya mereka masih merasa kurang dalam hal mengadakan pelanggaran-pelanggaran yang telah dibikin-bikin yaitu do’a bersama antar agama. Lalu KH Noer Muhammad Iskandar SQ yang muqollid Gus Dur itu konon ingin mengadakan bangunan bertingkat-tingkat, tempat ibadah aneka agama. Islam paling bawah, kemudian di atasanya gereja Kristen, di atasnya lagi Gereja Katolik, kemudian atasnya lagi pure, lalu klenteng, lalu entah apa lagi. Yang penting masjidnya yang terbesar, dan tempatnya di bawah. 

    Pendapat yang ngawurnya sudah seperti itu tidak usah dikomentari di sini. Sudahlah.
   Do’a bersama antar agama (uraian lengkap tentang haramnya do’a bersama ada di buku Tasawuf, Pluralisme dan Pemurtadan, terbitan Pustaka Al-Kautsar, Maret 2001), acara yang sebenarnya menginjak-injak aqidah Islam itu, apakah disikapi oleh lawan-lawan Gus Dur dengan cara kaum Nahdliyin dikuyo-kuyo? Tidak. Mereka bisa disiarkan televisi, radio, koran dan sebagainya. Jalan-jalan pun tidak ditutup untuk mereka. Walaupun kelak kemudian, Februari 2001 justru di tempat basis kaum Nahdliyin yaitu Jawa Timur, mereka itu --konon dengan cucu-cucu PKI--  mengadakan penutupan jalan secara massal, itupun masih dengan merusak tanaman, yaitu menebangi ratusan pohon, lantas digletakkan di sepanjang jalan untuk menutup jalan-jalan raya. Siapakah dalam kasus ini yang dikuyo-kuyo di masa pemerintahan Presiden Gus Dur ini? Bukankah justru kaum Nahdliyin yang tingkahnya bagai kuda lepas dari pingitan istilah untuk menyindir gadis binal? Bahkan bossnya pun demikian, hingga dalam waktu setahun 7 bulan, Gus Dur telah mengelilingi 90 negara dengan menghabiskan duit rakyat bermilyar-milyar tanpa hasil apapun yang bermanfaat.
 
    Setelah berbagai faktor ditilik, ternyata ungkapan tokoh Nahdliyin yaitu paman Gus Dur ini tidak tepat, maka perlu dibalikkan pertanyaan kepada para tokoh Nahdliyin. Secara gampangnya, kaum Nahdliyin mengamuk dan membela habis-habisan terhadap presiden Gus Dur itu hanyalah jadi kuda tunggangan yang tertipu. Mereka sampai terjerumus berbuat aneka macam tingkah yang tak terpuji, sampai terlanjur merusak masjid, madrasah, sekolahan, panti asuhan, perkantoran milik Muslimin yaitu Muhammadiyah dan Al-Irsyad itu hanyalah karena jadi kuda tunggangan, yang penungang-penunggangnya adalah orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Sampai mereka main bakar-bakaran, perusakan dan sebagainya itu sebenarnya hanyalah karena pembinaan selama ini diarahkan kepada kultus individu terhadap kiai-kiai NU. Juga fanatik/ ashobiyah yang sebenarnya sangat dilarang dalam Islam, telah disuntikkan oleh para pembina kaum Nahdliyin yang tidak lain tentunya adalah para kiai dan tokoh NU. Sehingga semua itu tanggung jawab pertama dan utama adalah di pundak para kiai NU dan tokoh-tokoh NU. 

     Tidak bisa lagi Gus Dur berkilah seperti biasanya bahwa kaum Nahdliyin mengamuk itu karena dibina oleh pihak lain. Karena, yang jadi sasaran saat ini justru pihak lain yang pernah dijatuhi alamat tuduhan oleh Gus Dur pada kasus perusakan gereja-gereja di Situbondo 4 tahun lalu. Saat itu Gus Dur selaku ketua umum PBNU melempar tanggung jawab moral dengan cara berkilah bahwa kejadian –yang tentu sangat menyakitkan Gus Dur yang dikenal sangat dekat dengan kaum Salib—itu dengan tuduhan bahwa kejadian itu (perusakn gereja) sampai terjadi karena anak buahnya (maksudnya kaum Nahdliyin) dibina oleh pihak lain. Lha, sekarang, kalau kenyataannya yang dirusak itu sarana peribadahan ummat Islam, sarana pendidikan dan pengasuhan anak-anak Islam, sarana perkantoran Ummat Islam khususnya milik Muhammadiyah dan Al-Irsyad, lantas siapa sebenarnya yang mendidik kaum Nahdliyin itu hingga bisa merusak sarana Muslimin Muhammadiyah dan Al-Irsyad?  Sejarah telah membuktikan, kebencian atau ketidak sukaan terhadap pembersihan bid’ah, khurafat, takhayul dan kemusyrikan adalah disandang oleh kiai-kiai NU. Oleh karena itu, bagaimanapun sejak awal berdirinya sampai kejadian masyarakat Nahdliyin berbuat senekad itu semuanya yang paling bertanggung jawab adalah para ulama, kiai dan tokoh NU. Gus Dur pun tidak berkutik lagi untuk mengelak-ngelak sebagaimana peristiwa terhadap gereja. Maka, sebenarnya dalam hal ini kaum Nahdliyin itu justru dikuyo-kuyo sendiri oleh para ulamanya, para kiainya, dan para tokoh NU-nya. Sadar atau tidak, itu adalah demikian adanya. Dan dengan demikian, ungkapan KH M Yusuf Hasyim itu ada benarnya, bahwa kaum Nahdliyin di masa pemerintahan Gus Dur pun dikuyo-kuyo, itu memang benar, tetapi yang menguyo-nguyo justru para ulama Nahdliyin,. para Kiyainya, dan para tokoh politik Nahdliyin sendiri. Itu letak benarnya ungkapan Pak Kiyai H M Yusuf Hasyim. Dalam hal ini cukup jitu, pendapat beliau.
    

Bila Kiyai Menjadi Tuhan
Membedah Faham Keagamaan NU & Islam Tradisional
Oleh : Hartono Ahmad Jaiz

Kunjungi juga:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar