Kondisi dan sikap kaum Nahdliyin (NU), menurut KH M Yusuf Hasyim Pengasuh
Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur sebagai berikut:
“...Ada persepsi di kalangan kaum Nahdliyin, di
masa Orde Lama, mereka dipinggirkan, di era Orde Baru, mereka ditindas, bahkan
di zaman Gus Dur jadi presiden pun mereka dikuyo-kuyo. Tak heran bila
mereka akan melawan habis-habisan setiap usaha menurunkan Gus Dur.” (Harian
Republika, Jum’at 9 Maret 2001M, halaman 4, dalam artikel berjudul
Politisasi Masjid).
Ungkapan paman bungsu Gus Dur itu pantas dicermati.
Benarkah kaum Nahdliyin (warga NU) di masa Gus Dur jadi presiden mereka
dikuyo-kuyo (disakiti atau dibuat menderita)? Lantas benarkah mereka
melawan habis-habisan setiap usaha menurunkan Gus Dur itu karena mereka bereaksi
dari perlakuan yang merugikan kaum Nahdliyin?
Tidak ada bukti-bukti yang dijelaskan. Dalam bentuk
apa kaum Nahdliyin itu dikuyo-kuyo di masa pemerintahan Gus Dur.
Siapa yang menguyo-nguyo pun tidak disebutkan. Sedangkan mereka dalam
membela Gus Dur habis-habisan itu pun tidak pernah menunjukkan bahwa diri mereka
dikuyo-kuyo sehingga harus tetap mempertahankan Gus Dur. Seandainya
pembelaan terhadap Gus Dur itu karena mereka dikuyo-kuyo, tentunya yang
lebih harus ditonjolkan adalah bukti kedhaliman pihak lawan Gus Dur terhadap
kaum Nahdliyin. Misalnya, tidak ada yang dibolehkan jadi menteri atau
menduduki jabatan perkantoran, atau menyelenggarakan upacara-upacara.
Kenyataannya walaupun acara-acara yang mereka selenggarakan banyak yang
mubadzir dan kadang mengakibatkan mudharat, tidak ada yang melarang. Yang
terjadi justru sebaliknya. Misalnya, ada pendukung fanatik Gus Dur yang lulusan
sastra yaitu DR AS Hikam dijadikan menteri riset dan teknologi. Paling-paling
lawan Gus Dur hanya mempersoalkan tidak pasnya penempatan itu, ditambah tidak
konsistennya sikap doktor sastra itu. Kenapa? Karena, di zaman pemerintahan
Habibie, orang sampai heran, kenapa AS Hikam ini sangat vokal dalam mengkritik
Habibie. Hingga hampir tiap hari muncul di televisi atau koran atau radio.
Namun, ketika di zaman pemerintahan Gus Dur, dia jadi pembela pemerintah
habis-habisan, sampai-sampai bumbu masak ajinomoto yang difatwakan haram oleh
MUI karena penyemaian bibit fermentasi (ragi) tempatnya di lemak babi, namun
kasus Akhir Ramadhan 1421H, Desember 2000-Januari 20001 itu dinyatakan oleh Gus
Dur bahwa ajinomoto itu halal, dan masalahnya selesai; dan pernyataan Gus Dur
yang menentang fatwa para ulama itu pun didukung AS Hikam
Dengan bukti semacam itu, bukankah bangsa Indonesia,
bahkan lawan-lawan Gus Dur pun sebenarnya terlalu “sabar”, hingga tidak langsung
menyumpal mulut-mulut Gus Dur, kaum Nahdliyin, dan para pendukungnya
–termasuk Dr Jalaluddin Rachmat dedengkot Syi’ah berkedok tasawuf di Bandung
yang membela-bela “fatwa” Gus Dur yang bertentangan dengan MUI. Padahal,
dari kalangan pendukung Gus Dur justru ada yang berupaya keras mau menyumpal
mulut AM Fatwa tokoh PAN (Partai Amanat Nasional) dengan kaos kaki busuk.
Siapakah sebenarnya yang dikuyo-kuyo?
Dari sisi lain, orang-orang Nahdliyin yang
tampaknya bagai kodok kebanyon (katak mendapatkan air)
berpolah tingkah sejadi-jadinya. Tidak puas dengan membuat
acara-acara bikinan berupa apa yang mereka sebut Istighotsah, lalu
digede-gedekan lagi dengan istilah Istighotsah Kubro mengumpulkan orang
untuk membaca-bacaan-bacaan tertentu bareng-bareng dengan suara keras. Padahal
di dalam Al-Qur’an, berdo’a itu dengan merendahkan diri tadhoru’, khusyu’
dan tidak bersuara keras.
ادعوا ربكم
تضرعا وخفية إنه لا يحب المعتدين.
Berdo’alah kepada Tuhanmu dengan
berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang melampaui batas.
(Al-A‘raaf/ 7: 55).
Nabi saw bersabda:
أيها الناس
اربعوا على أنفسكم فإنكم لا تدعون أصم ولا غائبا إنكم تدعون سميعا قريبا وهو معكم.
(متفق عليه).
Wahai umat manusia, kasihanilah dirimu
dan rendahkanlah suaramu, maka sesungguhnya kamu tidak menyeru Tuhan yang tuli
atau yang jauh, sesungguhnya kamu menyeru Tuhan yang Pendengar, dekat, dan Dia
menyertai kamu.” (HR Al-Bukhari dan
Muslim).
Acara bid’ah dan adabnya tidak sesuai Al-Qur’an dan
As-Sunnah itu dilaksanakan di berbagai kota, kadang disertai
pernyataan-pernyataan yang sifatnya kencang. Sampai-sampai Gus Dur --yang
temperamennya marah-marah ketika DPR mencecarnya tentang kenapa Departemen
Sosial dan Departemen Penerangan dibubarkan, hingga Gus Dur menjuluki anggota
DPR bagai anak TK (Taman Kanak-Kanak) saja-- merasa risih terhadap pendukungnya
yaitu kaum Nahdliyin (NU). Maka dalam salah satu acara di Jawa
Timur yang model istighotsah atau pernyataan bersama atau entah apalah
namanya, Gus Dur sampai menasihati kaum Nahdliyin pendukungnya itu, agar
dalam mendukungnya jangan sampai marah-marah.
Dengan kenyataan itu bisa dianalisis, seandainya
kaum Nahdliyin itu benar dikuyo-kuyo seperti yang ditulis paman
Gus Dur yang biasa disebut Pak ‘Ud (Yusuf Hasyim) itu, maka tentunya Gus Dur
tidak menasihati seperti itu, tetapi justru agar mereka tetap melawan, atau
paling kurang agar sabar menghadapi kuyo-kuyo dari pihak lawan, atau
jaminan Gus Dur untuk mengentas mereka dari derita
dikuyo-kuyo.
Setelah kaum Nahdliyin tidak ada yang
menguyo-nguyo walau sampai berpolah tingkah dengan aneka acara bikinan
itu, lalu melangkah lebih ngawur dan menentang aturan Allah SWT yang lebih
dahsyat lagi yaitu mengadakan upacara yang mereka sebut Indonesia
Berdo’a, yaitu acara do’a antar berbagai agama dan aliran kemusyikaan/
kebatinan di Senayan Jakarta, Agustus 2000, diprakarsai langsung oleh ketua umum
PBNU Hasyim Muzadi. Padahal, orang NU biasanya shalat maghrib dengan bacaan
Surat Al-Kafirun, yang ayat terakhirnya adalah لكم دينكم ولي
دين. Bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Jadi Islam sama sekali tidak mengajarkan untuk mengajak
kaum kafirin/ non Islam dengan ujaran “ayo beribadah bersama”. Meskipun mereka
hafal ayat al-kafirun itu, namun tampaknya mereka masih merasa kurang
dalam hal mengadakan pelanggaran-pelanggaran yang telah dibikin-bikin yaitu do’a
bersama antar agama. Lalu KH Noer Muhammad Iskandar SQ yang muqollid Gus
Dur itu konon ingin mengadakan bangunan bertingkat-tingkat, tempat ibadah aneka
agama. Islam paling bawah, kemudian di atasanya gereja Kristen, di atasnya lagi
Gereja Katolik, kemudian atasnya lagi pure, lalu klenteng, lalu entah apa lagi.
Yang penting masjidnya yang terbesar, dan tempatnya di bawah.
Pendapat yang ngawurnya sudah seperti itu tidak usah
dikomentari di sini. Sudahlah.
Do’a bersama antar agama (uraian lengkap tentang
haramnya do’a bersama ada di buku Tasawuf, Pluralisme dan Pemurtadan,
terbitan Pustaka Al-Kautsar, Maret 2001), acara yang sebenarnya menginjak-injak
aqidah Islam itu, apakah disikapi oleh lawan-lawan Gus Dur dengan cara kaum
Nahdliyin dikuyo-kuyo? Tidak. Mereka bisa disiarkan televisi,
radio, koran dan sebagainya. Jalan-jalan pun tidak ditutup untuk mereka.
Walaupun kelak kemudian, Februari 2001 justru di tempat basis kaum
Nahdliyin yaitu Jawa Timur, mereka itu --konon dengan cucu-cucu PKI--
mengadakan penutupan jalan secara massal, itupun masih dengan merusak tanaman,
yaitu menebangi ratusan pohon, lantas digletakkan di sepanjang jalan untuk
menutup jalan-jalan raya. Siapakah dalam kasus ini yang dikuyo-kuyo di
masa pemerintahan Presiden Gus Dur ini? Bukankah justru kaum Nahdliyin
yang tingkahnya bagai kuda lepas dari pingitan istilah untuk menyindir gadis
binal? Bahkan bossnya pun demikian, hingga dalam waktu setahun 7 bulan, Gus Dur
telah mengelilingi 90 negara dengan menghabiskan duit rakyat bermilyar-milyar
tanpa hasil apapun yang bermanfaat.
Setelah berbagai faktor ditilik, ternyata ungkapan
tokoh Nahdliyin yaitu paman Gus Dur ini tidak tepat, maka perlu
dibalikkan pertanyaan kepada para tokoh Nahdliyin. Secara gampangnya,
kaum Nahdliyin mengamuk dan membela habis-habisan terhadap presiden Gus
Dur itu hanyalah jadi kuda tunggangan yang tertipu. Mereka sampai terjerumus
berbuat aneka macam tingkah yang tak terpuji, sampai terlanjur merusak masjid,
madrasah, sekolahan, panti asuhan, perkantoran milik Muslimin yaitu Muhammadiyah
dan Al-Irsyad itu hanyalah karena jadi kuda tunggangan, yang
penungang-penunggangnya adalah orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Sampai
mereka main bakar-bakaran, perusakan dan sebagainya itu sebenarnya hanyalah
karena pembinaan selama ini diarahkan kepada kultus individu terhadap kiai-kiai
NU. Juga fanatik/ ashobiyah yang sebenarnya sangat dilarang dalam Islam,
telah disuntikkan oleh para pembina kaum Nahdliyin yang tidak lain
tentunya adalah para kiai dan tokoh NU. Sehingga semua itu tanggung jawab
pertama dan utama adalah di pundak para kiai NU dan tokoh-tokoh NU.
Tidak bisa lagi Gus Dur berkilah seperti biasanya
bahwa kaum Nahdliyin mengamuk itu karena dibina oleh pihak lain. Karena,
yang jadi sasaran saat ini justru pihak lain yang pernah dijatuhi alamat tuduhan
oleh Gus Dur pada kasus perusakan gereja-gereja di Situbondo 4 tahun lalu. Saat
itu Gus Dur selaku ketua umum PBNU melempar tanggung jawab moral dengan cara
berkilah bahwa kejadian –yang tentu sangat menyakitkan Gus Dur yang dikenal
sangat dekat dengan kaum Salib—itu dengan tuduhan bahwa kejadian itu (perusakn
gereja) sampai terjadi karena anak buahnya (maksudnya kaum Nahdliyin)
dibina oleh pihak lain. Lha, sekarang, kalau kenyataannya yang dirusak itu
sarana peribadahan ummat Islam, sarana pendidikan dan pengasuhan anak-anak
Islam, sarana perkantoran Ummat Islam khususnya milik Muhammadiyah dan
Al-Irsyad, lantas siapa sebenarnya yang mendidik kaum Nahdliyin itu
hingga bisa merusak sarana Muslimin Muhammadiyah dan Al-Irsyad? Sejarah telah
membuktikan, kebencian atau ketidak sukaan terhadap pembersihan bid’ah,
khurafat, takhayul dan kemusyrikan adalah disandang oleh kiai-kiai NU. Oleh
karena itu, bagaimanapun sejak awal berdirinya sampai kejadian masyarakat
Nahdliyin berbuat senekad itu semuanya yang paling bertanggung jawab adalah para
ulama, kiai dan tokoh NU. Gus Dur pun tidak berkutik lagi untuk mengelak-ngelak
sebagaimana peristiwa terhadap gereja. Maka, sebenarnya dalam hal ini kaum
Nahdliyin itu justru dikuyo-kuyo sendiri oleh para ulamanya, para
kiainya, dan para tokoh NU-nya. Sadar atau tidak, itu adalah demikian adanya.
Dan dengan demikian, ungkapan KH M Yusuf Hasyim itu ada benarnya, bahwa kaum
Nahdliyin di masa pemerintahan Gus Dur pun dikuyo-kuyo, itu memang
benar, tetapi yang menguyo-nguyo justru para ulama Nahdliyin,. para
Kiyainya, dan para tokoh politik Nahdliyin sendiri. Itu letak benarnya ungkapan
Pak Kiyai H M Yusuf Hasyim. Dalam hal ini cukup jitu, pendapat beliau.
Bila Kiyai Menjadi Tuhan
Membedah Faham Keagamaan NU & Islam Tradisional
Oleh : Hartono Ahmad Jaiz
Kunjungi juga:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar