1. Aqidah
sufisme mengenai Allah:
Orang-orang tasawwuf percaya kepada Allah dengan
aqidah-aqidah yang macam-macam di antaranya al-hulul (inkarnasi, penitisan/
penjelmaan Tuhan dalam diri manusia) seperti pendapat Al-Hallaj (menyebabkan
ia memaklumkan dirinya sebagai "kebenaran" dengan ucapan "anal Haq" = Akulah
Kebenaran. Al-Haq adalah salah satu nama Tuhan. Dengan perkataannya itu
berarti ia mengaku: "Akulah Tuhan." )
Faham
Hulul, faham yang menyatakan, bahwa Tuhan telah memilih tubuh-tubuh manusia
tertentu sebagai tempat-Nya, setelah sifat-sifat kemanusiaan dalam tubuh
tersebut dihilangkan. Faham Hulul dalam tasawwuf ditimbulkan oleh Husein Ibnu
Manshur al-Hallaj (lahir di Persia tahun 858M) yang mengajarkan bahwa: Allah
memiliki dua (2) sifat dasar (natur), yaitu sifat ke-Tuhan-an (lahuut) dan
sifat kemanusiaan (Nasuut). Hal tersebut dilihat dari teori kejadian
makhluk-Nya, sebagai berikut: Sebelum Tuhan menciptakan makhluk, Ia hanya
melihat diriNya sendiri. Dalam kesendirian-Nya itu, terjadilah dialog antara
Tuhan dengan diriNya.
Dialog
yang dalam, tidak terdapat dalam kata-kata ataupun huruf-huruf. Yang dilihat
Allah hanya kemuliaan dan ketinggianNya dan Allah pun cinta pada zatNya
sendiri. Cinta yang tidak dapat disifatkan dan cinta inilah yang menjadi
sebab wujud dan sebab dari yang banyak dan Ia-pun mengeluarkan dari yang
tiada, bentuk (copy) diri-Nya, yang mempunyai segala sifat dan namaNya, dan bentuk
(copy) tersebut adalah Adam, dan seterusnya. Setelah Adam tercipta dengan
cara-Nya, maka Ia sangat mencintai dan memuliakannya di syurga dan sebagai
khalif di bumiNya. (Drs Shodiq SE, Kamus Istilah Agama, CV Sienttarama Jakarta,
cetakan kedua, 1988, hal 122-123).
Kemudian
akibat pendapatnya yang mengandung kemusyrikan itu maka Al-Hallaj yang lahir
di Fars, Parsi (Iran) 244H/ 858M ini dihukum bunuh pada tanggal 24 Zulqa'dah
tahun 309H/ 26 Maret 922M, di Baghdad di bawah kekhalifahan Abbasiyah,
khalifah ke-18 dari 37 khalifah, Al-Muqtadir bi 'l-lah (Ja'far Abu
'l-Fadhl, yang berkuasa pada tahun 295-320H/ 908-932M. Selain Al-Hallaj
dituduh membawa paham yang menyesatkan (paham hulul), ia juga dituduh
mempunyai hubungan dengan Syi'ah Qaramitah, suatu kelompok Syi'ah garis keras
yang dipimpin oleh Hamdan bin Qarmat yang menentang pemerintahan Dinasti
Abbasiyah sejak abad ke-10 sampai abad ke-11. (lihat Ensiklopedi Islam,
Kafrawi Ridwan dkk ed, PT Ichtiar Baru van Hoeve Jakarta, cet V, 1999, huruf H,
hal 74-75).
Sumber
lain menyebutkan, Abu Mughits Al-Husein bin Mansur Al-Hallaj (244-309H)
dilahirkan di Persia, seorang cucu dari penganut Zoroaster, dibesarkan di
Irak. Tokoh inilah yang terkenal dengan "Hululiyin" (para penganut faham
panteisme) dan "Ittihadiyyin" (para penganut faham manunggaling kawula gusti).
Ia dituduh kafir, dibunuh dan disalib karena 4 perkara yang dituduhkan
kepadanya:
1. Karena
berhubungan dengan orang-orang Qaramithah (Syi'ah ekstrim).
2. Karena ucapannya: "Aku adalah Tuhan Yang Haq."
3. Karena pengikutnya meyakini akan ketuhanan dirinya.
4. Karena pendapatnya tentang haji, bahwa haji ke Baitullah tidak termasuk suatu kewajiban yang harus dilaksanakan.
2. Karena ucapannya: "Aku adalah Tuhan Yang Haq."
3. Karena pengikutnya meyakini akan ketuhanan dirinya.
4. Karena pendapatnya tentang haji, bahwa haji ke Baitullah tidak termasuk suatu kewajiban yang harus dilaksanakan.
Tentang
kepribadiannya, banyak hal-hal yang tidak jelas. Pertama sikapnya yang
sangat keras kepala, membangkang, dan ekstrim. Ia mengarang buku
"Al-Thawwasin", yang diteliti dan diterbitkan kembali oleh Louis Massignon
(seorang orientalis).
(Lembaga
Pengkajian dan Penelitian WAMI, Al-Mausu'ah al-Muyassarah fil Adyan wal
Madzaahib al Mu'ashirah, diterjemahkan A Najiyulloh menjadi Gerakan Keagamaan
dan Pemikiran, Akar Ideologis dan Penyebarannya, Al-Ishlahi Press, Cet I,
1995, jilid II, hal. 259).
Ulama
yang hidup pada masa itu di antaranya At-Thabari ahli tarikh/ sejarah (w
923M/ tidak menemui disalibnya Al-Hallaj 932M). Al-Asy'ari (260-324H) ahli
ilmu kalam yang pernah berfaham Mu'tazilah selama sekitar 40 tahun, kemudian
berubah ke faham yang kini disebut Asy'ariyyah atau Asya'irah, dan kemudian
rujuk ke Manhaj (jalan) Salaf (sahabat, tabi'ien dan tabi'it tabi'in) dengan
menyusun Kitab Al-Ibanah, kitab Tauhid yang Manhajnya Salaf, namun para
pengikut kini merujuknya bukan ke yang Salaf itu tapi ke yang Asy'ariyah yang
berdekatan dengan faham Maturidiyah. Beliau wafat tahun 935M, berarti masih
hidup selama 3 tahun setelah disalibnya Al-Hallaj 932M. Sedang Junaid
Al-Baghdadi, mufassir shufi pertama, meninggal tahun 910M, saat itu
Al-Hallaj baru berumur 2 atau 3 tahun, yang kemudian ketika umur 25 tahun
Al-Hallaj dibunuh dan disalib di jembatan Baghdad lantaran fahamnya yang
dinilai sangat membahayakan Islam.
Dan di
antara aqidah sufi yaitu Wihdatul Wujud (manunggaling kawula Gusti, bersatunya
hamba dengan Tuhan, lihat pada Bab Nur Muhammad, Hakekat Muhammad, dan Wihdatul
Wujud) di mana tidak ada pemisahan antara Khaliq dan makhluk. Inilah aqidah yang
terakhir yang tersebar sejak abad ketiga Hijriyah sampai hari ini, dan
diterapkan akhir-akhir ini oleh setiap tokoh tasawwuf. Yang paling terkenal
dalam aqidah ini adalah Ibnu 'Arabi, Ibnu Sab'in, At-Tilmasani, Abdul Karim
Al-Jilli, Abdul Ghani An-Nablisi dan para tokoh tarekat-tarekat sufisme baru
pada umumnya. (Fadhoihus Shufiyyah, hal 44, Al-Fikrus Shufi cet 4, hal 58,
As-Shufiyyah aqidah wa ahdaf, hal 21, terjemahannya, hal 23-24).
Ada pula
aqidah shufi yang namanya ittihad, yaitu bersatunya seorang sufi (tasawwuf)
sedemikian rupa dengan Allah SWT setelah terlebih dahulu melalui penghancuran
diri (fana') dari keadaan jasmani dan kesadaran rohani untuk kemudian berada
dalam keadaan baka' (tetap/ bersatu dengan Allah SWT).
Paham
ittihad pertama kali dikemukakan oleh shufi Abu Yazid al-Bustami (meninggal di
Bistam, Iran, 261H/ 874M).
Pada
suatu waktu dalam pengembaraannya, setelah shalat subuh Yazid al-Bustami
berkata kepada orang-orang yang mengikutinya: Innii ana Allah laa ilaaha illaa
ana fa'budnii (Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tiada Tuhan melainkan aku,
maka sembahlah aku)." Mendengar kata-kata itu, orang-orang yang menyertainya
mengatakan bahwa al-Bustami telah gila.
Menurut
pandangan para shufi, ketika mengucapkan kata-kata itu, al-Bustami sedang berada
dalam keadaan ittihad, suatu maqam (tingkatan) tertinggi dalam paham
tasawwuf.
Dalam
keadaan ittihad, seorang shufi sering mengucapkan kata-kata yang aneh,
seakan-akan ia mengaku sebagai Tuhan, seperti yang diucapkan al-Bustami di atas
(Sesungguhnya aku ini Allah, tiada Tuhan melainkan aku, maka sembahlah aku).
Al-Bustami juga pernah mengucapkan kata-kata: Subhani subhani, ma a'dhama
sya'ni (Maha Suci aku, Maha Suci aku, alangkah Maha Agungnya aku).
Al-Bustami
juga berkata: Laisa fi al-jubbah illa Allah (tidak ada di dalam jubah ini
kecuali Allah).
Kata-kata
seperti itu disebut syathahat (perkataan --aneh-aneh-- yang keluar dari mulut
seorang shufi ketika ittihad, menyatu dengan Tuhan). Dalam pandangan shufi,
kata-kata itu bukan keluar dari seorang shufi tetapi kata-kata Allah SWT melalui
lisan seorang shufi tetapi sedang dalam keadaan ittihad. Bukan Zat Allah
SWT yang berbicara, tetapi aspek Allah SWT yang ada pada diri shufi itulah
yang sedang berbicara. (lihat Ensiklopedi Islam, huruf I, halaman
286-287).
Betapa
jauhnya kepercayaan shufi itu dari Islam. Allah SWT disamakan dengan jin atau
syetan yang masuk ke diri manusia hingga manusianya menjadi kesurupan
(ke-jin-an/majnun), dan bicaranya ngaco (merancu tak keruan), hanya saja
dinamakan syathahat yaitu bicara ngaco namun justru dianggap telah sampai
pada
tingkatan
(maqom) tertinggi --yang mereka tuduhkan-- yakni ittihad, menyatu dengan Tuhan.
Na'udzubillaahi min dzaalik, dari aqidah yang amat sesat itu.
Hanya
saja, aqidah sesat ini ditampilkan dengan nada miring berupa pembelaan samar
di buku yang disebut Ensiklopedi Islam di Indonesia ini, yang ditangani dan
ditulis oleh orang-orang IAIN (Institut Agama Islam) Jakarta dan lainnya, yang
memang editornya ada seorang profesor yang dikenal sebagai pengajar
tasawwuf, sekaligus pembela tasawwuf. Pak profesor itu pernah mengajar
tasawwuf kepada saya dan teman-teman 40-an orang di Jakarta 1997, yang
rata-rata mempunyai jama'ah dan keluaran perguruan tinggi Islam dan insya
Allah mampu membaca kitab. Saya katakan pada Pak Profesor tasawwuf itu dalam
perkuliahan, bahwa tasawwuf itu bukan dari Islam, mengotori Islam. Apa itu kasyf
(tersingkapnya hijab, hingga seorang shufi bisa mengetahui hal ghaib) yang
dibeberkan Abu Hamid Al-Ghazali (1058-1111M/ 505H)? Itu bukan ajaran Islam,
karena
teori itu Jayabaya yang sama sekali bukan orang Islam pun kemungkinan bisa,
dengan istilah yang dikenal dengan "ramalan Joyoboyo". Di samping itu,
Al-Ghazali tidak memperhatikan Islam secara penuh. Dia masih hidup selama 25
tahunan ketika Perang Salib berlangsung (Tentara Salib menduduki
Yerussalem tahun 1076M, sedang Al-Ghazali hidup 1058-1111M) , yaitu perang
besar dan berkepanjangan antara Muslimin dengan Kristen. Namun sebagai
ilmuwan, Al-Ghazali tidak terdengar adanya perhatian dia tentang perang jihad
yang sangat besar itu, baik itu tulisan ataupun pidato, padahal dia sangat
rajin mengarang. Bahkan di Jawa, Sunan Mangkunegoro IV yang diangkat-angkat
sebagai orang yang termasuk tokoh shufi (dijadikan tesis untuk doktor di IAIN
Jakarta oleh Profesor tersebut dengan tema keshufian) ternyata dia
(Mangkunegoro IV) itu sendiri jelas-jelas menulis syair yang menyatakan
bahwa dirinya tidak shalat. Jadi tasawwuf itu jelas bukan ajaran Islam, bahkan
mengotori Islam, tutur saya (penulis).
Bagaimana
reaksi Pak Profesor yang bukan sekadar mengenalkan apa itu shufi, namun
memang pembawa ajaran tasawwuf itu. Dengan muka yang cukup tegang (padahal
beliau orang Solo Jawa Tengah dan sudah agak tua, yang tampaknya lembut tapi
saat itu memerah wajahnya), beliau menunjuk-nunjuk saya sambil berkata:
"Anda belajar di mana?! Keluaran mana?! Lalu belajar apa?!" dengan suara
keras dan mengagetkan teman-teman yang berjumlah 40-an orang dalam ruang
kuliah itu.
Setelah
saya jawab, beliau hanya berseru: "Anda harus banyak belajar lagi!"
Ucapan-ucapan beliau itu, di luar perkuliahan dihafalkan
oleh seorang teman, yang kalau bertemu saya lalu dia praktekkan, dengan
menunjuk-nunjuk muka saya, teman itu mempraktekkan kata-kata Pak Professor,
kemudian ditutup dengan: "Ini marahnya seorang shufi, kamu harus tahu!"
ucapnya sambil tertawa-tawa. Sayapun tertawa saja ketika dicandai
begitu.
Pada
kesempatan berikutnya, rupanya pertanyaan saya kepada Bapak Profesor itu
diambil hati (diperhatikan betul). Kemungkinan beliau lantas membuka-buka
referensi atau rujukan kitab-kitab, untuk membantah ucapan muridnya ini.
Lalu dalam perkuliahan selanjutnya, beliau menjawab tentang kasus Al-Ghazali
tokoh shufi kasyf, dan Mangkunegara IV raja kerajaan (kasunanan) Mangkunegaran
Surakarta (Solo) Jawa Tengah, yang dipersoalkan tersebut. Kata Pak Profesor
yang jadi salah satu editor Ensiklopedi Islam yang sedang dikritik ini,
Al-Ghazali bukannya tak ada perhatian terhadap kegiatan Islam. Buktinya,
Al-Ghazali juga pernah berkunjung ke Andalus, guna memberikan gelar kepada
salah seorang anggota kekhalifahan di Andalus. Adapun Mangkunegara IV, toh
di dalam Kitab Nailul Authar disebutkan bahwa shalat itu bisa dijama'. Nah,
Mangkunagara IV itu sebelumnya dia "nyantri" di pesantren, lalu dipanggil
untuk menjadi pegawai di kerajaan, jadi sibuk. Memang dalam dua baris
syairnya, Mangkunegara IV menyebutkan dirinya tidak shalat.
Tak
tahulah. Saya dan teman-teman tidak bisa "menjangkau" jawaban Pak Profesor
itu. Apa hubungannya antara shalat boleh dijama' dengan tidak shalatnya
Mangkunagara IV, dan apa hubungannnya antara perhatian yang dituntut oleh
Islam dengan bertandangnya Al-Ghazali untuk memberi gelar seorang anggota
kekhalifahan di Andalus? Yang bisa dijangkau hanyalah gumam yang kewetu
(terlanjur keluar) dari lisan Pak Profesor, bahwa beliau ketika diuji
tesisnya untuk doktor (tentang Mangkunagara IV kaitannya dengan tasawwuf) di
IAIN Jakarta tidak sampai seperti pertanyaan yang dicecarkan si murid ini.
Pada lain
kesempatan, saya ceritakan hal tersebut kepada seorang teman. Lalu teman
saya itu bercerita pula tentang model jawaban "marah" dari "syeikh" shufi
yang pernah dia saksikan ketika mendapatkan kesempatan untuk penataran da'i
internasional di Al-Azhar Mesir selama 3 bulan. Dalam suatu perkuliahan, ada
peserta (da'i) dari Bangladesh yang mengkritik tasawwuf. Lantas guru yang
"syeikh" shufi tidak menjawab kritikan itu dengan jawaban yang berkaitan
dengan kritikan, namun hanyalah marah-marah disertai kata-kata, "Di negerimu
banyak masalah. Urusi itu. Tidak usah kamu mengkritik-kritik tasawwuf. Urusan
di negerimu saja banyak sekali. Itu yang harus kamu urusi."
Entah
kenapa, kok ada kemiripan antara sesama guru besar tasawwuf baik yang ada di
Jakarta maupun Kairo, kalau dikritik tasawwufnya lalu marah-marah, dan
jawabannya ngaco (tidak relevan). Di samping itu ada kemiripan kenyataan pula,
yang sekolah jauh-jauh ke Al-Azhar Mesir atau ke Pasca Sarjana IAIN Jakarta
tahu-tahu di masyarakat menyebarkan tasawwuf. Tidak semuanya, tetapi bisa
dibilang jarang sekali yang kritis terhadap sufisme. Sebagai bukti, profesor
di IAIN Jakarta tersebut bukannya mengkritik Mangkunegara IV yang tidak
shalat, tetapi malahan mencari-carikan jawaban dengan mengemukakan bolehnya
shalat jama' (digabung antara dhuhur dengan ashar, maghrib dengan isya').
Padahal antara keduanya (tentang tidak shalat dan tentang bolehnya shalat
jama') itu tidak ada kaitannya.
Perlu
ditambahkan, saya menuturkan ini karena sering mendapatkan kesempatan untuk
menyaksikan ujian doktor di IAIN Jakarta, termasuk ujian beliau (yang jadi
editor Ensiklopedi Islam itu), beberapa tahun sebelum saya ajukan pertanyaan
tersebut. Ujian itu seperti biasanya, selalu dihadiri oleh Prof Dr Harun
Nasution,
dekan
Pasca Sarjana IAIN Jakarta, sebagai salah satu penguji. Berkali-kali saya
bertugas meliput ujian doktor semacam itu, karena ditugaskan oleh kantor
redaksi atas undangan IAIN Jakarta untuk meliputnya.
Apa yang
kewetu dari lisan Pak Profesor bahwa ketika ujian justru tidak ada pertanyaan
yang mencecar seperti itu, memang betul. Karena Harun Nasution sebagai dekan
memang sudah dikenal arah pemikirannya secara umum adalah mengarah kepada
Mu'tazilah, filsafat, dan sufisme. (Untuk mengarahkan agar kenal dengan faham
Mu'tazilah, misalnya Harun Nasution menanya kepada calon doktor yang diuji:
"Apa makna Yahdillaahu man yasya'?" Lalu si calon doktor menjawab: "Allah
memberi petunjuk kepada orang yang Allah kehendaki." Kemudian disahut oleh
Harun Nasution: "Itu makna menurut Ahlus Sunnah. Kalau menurut
Mu'tazilah?" Bila calon doktor tak bisa menjawab, maka dituntun oleh
Harun Nasution: "Allah memberi petunjuk kepada orang yang orang itu sendiri
menghendaki. Jadi yasya' itu dhomirnya/ kata gantinya kembali kepada "man"
yaitu orang itu sendiri". Lantas calon doktor itu (maaf) tampaknya seperti
kerbau yang dicocok hidungnya).
Meskipun
sebenarnya dalam ujian yang saya saksikan itu ada penguji yang jeli dan
mempertanyakan pula tentang shalat atau tidaknya Mangkunegara IV, namun wibawa
dekan yakni Harun Nasution yang sudah bisa dimengerti bahwa sufisme ini
jelas-jelas dia dukung, ataupun kondisi waktu bisa diatur oleh sang ketua
ujian,
maka
pertanyaan pun tidak sampai menukik benar. Bahkan, saya saksikan,
pembangkitan kembali peninggalan Mangkunagara IV yang pembahasannya dikaitkan
dengan sufisme (kedua-duanya ini sebenarnya sudah terkubur, tapi digali
kembali oleh tangan-tangan yang 'kemungkinan mengotori Islam') itu, mendapat
sambutan yang baik dalam ujian tersebut. Dari sini bisa difahami, misi Harun
Nasution dan murid-muridnya yang kurang lebihnya adalah sekulerisme,
liberalisme berfikir, dan pluralisme (tidak boleh mengakui bahwa Islam sajalah
yang benar) dicampur sufisme memang mendorong dimunculkannya ajaran-ajaran
yang tidak jelas seperti tesis yang diujikan dan mendapat sambutan baik
tersebut. Dan salah satu sarana yang disisipi misinya untuk disebarkan adalah
Ensiklopedi Islam, yang teman saya mengaku termasuk orang yang diberi proyek
untuk menulis itu oleh Harun Nasution, hingga cukup untuk membiayai kuliahnya
hingga mencapai doktor.
Pantaslah
kalau penggalian kembali tulisan Mangkunegara IV tersebut dihargai, karena
misinya sama dengan misi orientalis seperti Louis Massignon dan lain-lainnya
yang menggali kembali peninggalan-peninggalan tasawwuf yang telah terkubur
lalu ditampilkan lagi dan dicetak. Untuk apa? Untuk kepentingan orientalis
yang kaitannya erat dengan penjajahan terhadap ummat Islam sedunia dan
mengotori Islam, melemahkan serta merancukan. Dan missi itupun dilanjutkan oleh
Harun Nasution dan pemerintahan Orde Baru dengan menteri-menteri agama Mukti
Ali, Munawir Sjadzali, Tarmidzi Taher, dan di zaman reformasi setelah jatuhnya
Presiden Soeharto adalah Menteri Agama Malik Fajar, yang mereka itu
menggencarkan pengiriman dosen-dosen IAIN ke negeri-negeri Barat untuk belajar
"Islam" warisan orientalis. Adapun menteri Agama Alamsjah Ratuperwiranegara tak
begitu terdengar apakah ia menggencarkan atau tidak, walau masanya setelah
Mukti Ali. Sedang Quraish Shihab yang jadi menteri agama selama 70 hari
saja, karena Soeharto keburu jatuh akibat didemo mahasiswa 21 Mei 1998,
walau alumni Al-Azhar Mesir namun tidak tampak mencoba untuk membendung arus
Harun Nasution yang pro orientalis. Bahkan sebelumnya, ketika Quraish
jadi rektor IAIN pun tidak ada gaungnya alias tidak terdengar membendung
Harunisme. Ketika buku ini ditulis, yang duduk sebagai dekan Pasca Sarjana
IAIN Jakarta adalah Prof Dr Said Aqil Al-Munawar, seorang yang hafal Al-Quran
dan berguru Hadits ke Syeikh Yasin Al-Padangi di Makkah.
Ustadz
Aqil ini dari kalangan NU, beliau hafalannya kuat. Ketika saya sempat diajari
ilmu Hadits dalam perkuliahan, beliau sering sekali menyebut nama Abdul Fattah
Abu Ghuddah (tokoh Ikhwanul Muslimin Syuriah, ada yang menggolongkannya shufi
juga). Apakah Pak Aqil mendukung orientalis juga dan mendukung shufi, belum
bisa saya berkomentar.
Yang
jelas, terhadap shufi tentu tidak seperti tulisan saya ini. Sedang menteri
agama angkatan Presiden Gus Dur (Abdurrahman Wahid) September 1999 adalah
Thalhah Hasan konon orang NU. Belum terdengar adanya penyetopan terhadap
pengiriman dosen-dosen IAIN ke Barat untuk belajar Islam alias sufisme yang
diprogramkan orientalis dan Yahudi. Apalagi Presiden Gus Dur justru dikenal
sebagai orang yang dari awalnya pro Yahudi Israel dan bersuara miring
terhadap gerakan Islam murni. Jadi, paling kurang, program yang berbau
orientalis dan Yahudi kemungkinan akan dilindungi oleh Gus Dur. Di samping
itu, sekalipun Harun Nasution sudah meninggal dunia, namun kader-kadernya
telah banyak, dan programnya masih berjalan. Meskipun demikian, kebatilan
yang mereka usung secara sistematis dan dibiayai oleh duit Muslimin lewat
negara, insya Allah akan hancur juga, karena gelombang anti kolonialis,
anti filsafat, anti tasawwuf, anti bid'ah, anti orientalis yang
menyesatkan, dan anti aneka tipuan Yahudi; semakin merebak. Di antara bukti
nyata, gagasan reaktualisasinya.
Munawir
Sjadzali, menteri agama yang lama, yang ingin merubah hukum waris Islam,
dari 2:1 antara bagian laki-laki dan perempuan menjadi 1:1; karena Munawir
menganggap hukum Islam tentang waris (yang menegaskan 2 bagian untuk
laki-laki dan 1 bagian untuk perempuan) itu tidak adil, ternyata gagasannya
itu luntur dengan habisnya masa jabatan kementrian Munawir 1993.
Mengenai
pembelaan samar terhadap tasawwuf dalam buku Ensi itu bisa kita simak kutipan
darinya sebagai berikut:
"Paham-paham ittihad, hulul ataupun wahdah al-wujud ini
dipandang sesat dan menyesatkan oleh ulama-ulama syari'at. Oleh sebab itu, para
penulis tentang shufi atau tasawwuf pada abad ke-3 dan ke-4 Hijriah (masa
subur dan berkembangnya paham tasawwuf), seperti Abu Bakar Al-Kalabadi (w
380H) dan Abu Qasim Abdul Karim al-Qusyairi (w 465H), enggan menulis
masalah-masalah tersebut.
Uraian
mengenai hal ini dapat dijumpai dalam tulisan-tulisan kaum Orientalis. Kemudian
penulis Islam pun tergerak kembali hasratnya untuk mengungkapkan khazanah lama
miliknya itu." (Ensiklopedi Islam, huruf I, halaman 287).
Bagaimana
buku itu menggambarkan seakan tasawwuf itu suatu yang berharga sekali dan
sayang kalau hilang, ditulis dalam baris-baris kutipan terakhir tersebut.
Istilah yang dikemukakan pun tampak dibuat sedemikian rupa, hingga para ulama
pun disebut "ulama-ulama syari'at", seakan Islam itu tidak komplit kalau
tidak pakai tasawwuf. Sedang para ulama yang ahli hadits, fiqh, tafsir dsb yang
tentu saja faham benar tentang sesatnya tasawwuf, disebutnya ulama-ulama
syari'at.
Telah
disebutkan di atas, bagaimana Imam Ahmad bin Hanbal menasihati
murid-muridnya agar tidak mendekati orang sufi. Imam Ahmad bin Hanbal adalah
salah seorang yang termasuk imam empat yang sangat terkenal, yaitu Imam Hanafi
(lahir di Kufah 80H- w. di Baghdad 150H/ 700-772M), Imam Maliki (Madinah 93-
179H/ 712-798M), Imam Syafi'i (Ghazza 150H/ 767M - w. di Fusthat Mesir 204H/820M), dan Imam Hanbali (Baghdad 164H/780M, w. di
Baghdad 241H/855M). Dalam pembicaraan ilmu, hampir tak pernah mereka itu
disebut ulama syari'at (untuk maksud bahwa ada ulama tasawwuf) seperti
penyebutan dalam Ensiklopedi itu, tetapi adalah Imam (madzhab) yang empat,
artinya mereka itu ulama, yang tingkatannya mujtahid mutlak, orang yang mampu
berijtihad (mencurahkan pikiran untuk menentukan hukum syara' yang tidak ada
dalam nash/teks ayat ataupun hadits) tanpa bersandar pada orang lain.
Sehingga, ulama-ulama belakangan yang meneruskan ilmu para mujtahid atau imam
madzhab tersebut, sebenarnya tidak perlu disebut ulama syari'at. Cukup
disebut ulama. Namun orang shufi menyebutnya ulama syari'at karena dianggap
tidak mengetahui yang batin atau yang ghaib. Padahal Nabi Muhammad SAW sendiri
tidak mengetahui yang ghaib, bahkan jelas-jelas menegaskan bahwa Nabi tidak
tahu apa yang diperbuat Allah untuk Nabi sendiri esok (lihat dalam bab aqidah).
Allah berfirman:
"Katakanlah! Tidak ada yang dapat mengetahui perkara
ghaib di langit dan di bumi kecuali Allah." (An-Naml: 65).
Ada
sebagian delegasi yang datang ke Nabi SAW, mereka menganggap bahwa Nabi
termasuk orang yang mengaku bisa melihat yang ghaib, maka mereka
menyembunyikan sesuatu di dalam (genggaman) tangan mereka untuk beliau. Dan
mereka berkata pada beliau: "Khabarkan pada kami, apa dia (yang ada dalam
genggaman kami ini)? Lalu beliau menjawab kepada mereka dalam keadaan berteriak:
"Innii lastu bikaahinin, wa innal kaahina wal kahaanatu
walkuhhaana fin naar."
(Aku bukan seorang dukun. Sesungguhnya dukun dan
perdukunan serta dukun-dukun itu di dalam neraka.") (HR Abu Dawud, 286).
Kembali
kepada buku tersebut, untuk menegaskan satu sikap dari suatu buku, ataupun untuk
mengemukakan bahwa shufi itu juga perlu dianggap bahwa di sana ada ulamanya,
maka maksud-maksud itu bisa dibaca pula. Sebagaimana Abdur Rahman Abdul Khaliq
dalam bukunya yang menyoroti shufi itu menyebut shufi sebagai ad-dien as-shufi
(agama sufi), bukan sekadar aliran shufi, karena memang shufi ataupun
tasawwuf dinilai sebagai di luar agama Islam. Hanya saja bedanya, pihak yang
satu (pembela shufi) ingin mendorong agar shufi atau tasawwuf dimasukkan ke
Islam, sedang pihak yang lain (penolak shufi) menjelaskan dengan bukti-bukti
dan dalil bahwa shufi atau tasawwuf itu di luar Islam. Kalau sudah demikian,
maka jalan keluarnya, kita ikuti perintah Allah SWT:
Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu,
maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika
kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian." (QS An-Nisaa'/
4:59).
Coba kita
kembalikan kepada Al-Quran atau Sunnah Rasul, apakah memang aqidah shufi itu
cocok. Aqidah shufi terutama ittihad, hulul, dan wihdatul wujud itu sudah
mencampuri urusan keghaiban yang tertinggi, yaitu dzat Allah SWT. Padahal, Nabi
SAW telah menegaskan:
Wallahi
innii larosuulullaah, laa adrii maa yaf'alu bii ghodan.
Demi
Allah, sesungguhnya aku ini pasti utusan Allah, (tetapi) aku tidak tahu apa yang
akan Allah kerjakan padaku esok." (Hadits Riwayat Al-Bukhari 3/ 358, 6/223 dan
224, 8/ 266 dalam Fathul Bari; dan riwayat Imam Ahmad 6/ 436 dari Ummul 'Ala'
Al-Andhariyah dengan semacamnya).
Selanjutnya, untuk menuntaskan masalah ini, akan dibahas
--insya Allah—dalam bab Lemahnya Alasan Shufi dan Pendukungnya.
2. Aqidah
Shufi Mengenai Rasulullah SAW
Sufisme
dalam hal mempercayai Rasulullah juga ada bermacam-macam aqidah. Di antaranya
ada yang menganggap bahwa Rasul SAW tidak sampai pada derajat dan keadaan
mereka (orang-orang shufi). Dan Nabi SAW (dianggap) jahil (bodoh) terhadap ilmu
tokoh-tokoh tasawwuf seperti perkataan Busthami: "Kami telah masuk lautan,
sedang para nabi berdiri di tepinya."
Abu Bakar
Jabir Al-Jazairi, pengarang kitab Ila at-Tashawwuf ya 'Ibadallaah menisbatkan
perkataan tersebut kepada At-Tijani (pendiri tarekat At-Tijaniyah). Lalu
Al-Jazairi berkomentar: Kelanjutan ucapan At-Tijani ini bahwa quthub-quthub
(wali-wali yang ada di kutub-kutub dunia) shufi itu menurut pendapat mereka
lebih tahu dibanding Nabi-nabi tentang Allah dan lebih mengerti tentang
syari'atNya yang mengandung kecintaan dan kemarahan. Bukankah (kepercayaan)
ini merupakan kekafiran wahai hamba-hamba Allah? komentar Abu Bakar Jabir
Al-Jazairi, Khatib Masjid Nabawi Madinah. (Ila at-Tashawwuf ya 'Ibadallaah,
Jam'iyyah Ihyait Turats Al-Islami, halaman 40).
Di antara
mereka (orang-orang shufi) ada yang mempercayai bahwa Rasul Muhammad itu
adalah kubah alam, dan dia itulah Allah yang bersemayam di atas Arsy,
sedangkan langit-langit, bumi, arsy, kursi, dan semua alam itu dijadikan dari
nurnya (nur Muhammad), dan dialah awal kejadian, yaitu yang bersemayam di
atas Arasy Allah. Inilah aqidah Ibnu Arabi dan orang-orang yang datang
setelahnya/ pengikutna. (fadhoihus Shufiyyah, hal 44-45, Al-fikrus Shufi,
hal 58-59, As-Shufiyyah Aqidah wa Ahdaf, hal 22, terjemahnya halaman 24-25).
3. Aqidah
Shufi Mengenai Wali-wali.
Sufisme
dalam hal wali-wali juga mempercayai dengan kepercayaan yang
bermacam-macam. Di antara mereka ada yang melebihkan wali di atas nabi. Pada
umumnya orang shufi menjadikan wali itu menyamai/sejajar dengan Allah dalam
segala sifatnya, maka ia (wali) itu mencipta, memberi rizki, menghidupkan,
mematikan, dan mengatur alam.
Orang
shufi membagi-bagi wali menjadi beberapa bagian, ada yang disebut wali
Al-Ghauts yang mempunyai kemauan sendiri dalam segala sesuatu di dunia ini, dan
ada 4 Wali Kutub yang memegangi pojok-pojok yang empat di dunia ini atas
perintah wali Al-Ghauts. Dan ada wali Abdal yang tujuh, masing-masing mempunyai
kekuasaan di satu benua dari 7 benua atas perintah wali Al-Ghauts. Dan ada wali
Nujaba', yang mereka itu memiliki kekuasaan di kota-kota setiap wilayah di
kota. Di kota-kota, demikianlah seterusnya, maka jaringan wali-wali
internasional ini menguasai makhluk, dan mereka punya dewan tempat mereka
berkumpul yaitu di Gua Hira', setiap malam mereka melihat taqdir. Cekak aosnya
(pendek kata), dunia perwalian (shufi) itu adalah dunia khurafat
(kepercayaan yang menyeleweng dari kemurnian Islam) total.
Ini
otomatis berbeda dengan kewalian dalam Islam yang ditegakkan di atas agama dan
taqwa, amal shaleh dan ibadah yang sempurna kepada Allah, dan membutuhkan
(pertolongan) Allah. Sebenarnya wali itu tidak bisa menguasai urusan dirinya
sendiri (untuk mendatangkan manfaat dan madharat) sedikitpun, lebih-lebih untuk
menguasai orang lain. Allah Ta'ala berfirman:
"Katakanlah: "Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan suatu
kemudharatan pun kepadamu dan tidak (pula) suatu kemanfaatan." (QS
Al-Jinn/ 72:21). (Fadhoihus Shufiyyah, hal 45, Al-Fikrus Shufi,
hal 59, As-Shufiyyah 'Aqidah wa Ahdaf hal 22-23).
Sebagian
cerita yang dikisahkan orang-orang shufi memang terjadi, namun bercampur
dengan sihir, sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Taimiyyah dalam bukunya
yang berjudul Al-Furqan baina Auliya'ir Rahman wa Auliya'is syaithan
(perbedaan antara wali-wali Tuhan dan wali-wali syetan). Buku itu muncul
waktu orang-orang mencampuradukkan antara sihir dan karamah. Ibnu Taimiyyah
mengatakan bahwa sebagian orang musyrik, baik dari Bangsa Arab, India,
Turki, Yunani, maupun bangsa lain, mempunyai kegigihan dalam bidang ilmu,
kezuhudan, dan ibadah; namun mereka tidak mengikuti dan tidak beriman kepada
para Rasul, tidak membenarkan berita-berita yang Rasul bawa, dan tidak
mentaati perintahnya. Orang-orang seperti itu bukanlah orang-orang yang
beriman, dan bukan pula wali-wali Allah. Mereka adalah orang-orang yang
dihubungi dan dihampiri oleh syetan-syetan. Mereka dapat mengungkapkan
beberapa perkara ghaib, mereka memiliki beberapa perilaku luar biasa yang
merupakan bagian dari sihir. Mereka itu tukang sihir yang dihampiri
syetan-syetan. Allah Ta'ala berfirman:
"Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa
syetan-syetan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang
banyak dosa. Mereka menghadapkan pendengaran (kepada syetan) itu, dan
kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta." (As-Syu'ara:
221-223).
Mereka
bersandar kepada Mukasyafat (penyingkapan perkara- perkara yang ghaib) dan
hal-hal yang luar biasa. Apabila mereka tidak mengikuti Rasul, tentu
amalan-amalan mereka mengandung dosa seperti kemusyrikan, kedzaliman, kekejian,
sikap berlebihan, atau bid'ah dalam ibadah. Mereka dihampiri dan didatangi
syetan-syetan, sehingga mereka menjadi wali-wali syetan, bukan wali-wali
Ar-Rahman (Tuhan). Allah Ta'ala berfirman:
Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran (Allah) Yang
Maha Pemurah (Al-Quran), kami adakan baginya syetan (yang menyesatkan), dan
syetan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya." (Az-Zukhruf/
43:36).
Pengajaran
Allah (Dzikrur Rahman) adalah pengajaran yang dibawa oleh Rasul-Nya saw, yakni
al-Quran.
Barangsiapa tidak beriman kepada Al-Quran, tidak
membenarkan beritanya, dan tidak meyakini kewajiban perintahnya, berarti dia
telah berpaling dari Al-Quran, kemudian syetan datang menjadi teman setia
baginya.
Seseorang
yang selalu berdzikir kepada Allah, baik malam maupun siang, disertai
dengan puncak kezuhudan dan kesungguhan beribadah kepada-Nya, namun tidak
mengikuti dzikir yang Allah turunkan, yakni Al-Quran, maka dia termasuk wali
syetan, meskipun dia mampu terbang di angkasa atau berjalan di atas air.
Syetanlah yang membawanya ke angkasa sehingga ia mampu terbang. (Ibnu Taimiyyah,
Al-Furqan baina Auliya'ir Rahman wa Auliya'is syaithan, 1396H, hal 11 seperti
dikutip Laila binti Abdillah dalam As-Shufiyyah Aqidah wa Ahdaf, Darul
Wathan, Riyadh, cetakan I, 1410H, halaman 24-25, dan terjemahan Indonesia
Mewaspadai Tasawuf, Wala Press, Bekasi, I, 1416H/ 1995, hal 28-30).
Wali Allah menurut
Al-Quran
Wali
Allah menurut Al-Quran tidak seperti yang digambarkan oleh orang tasawwuf.
Tetapi wali Allah yaitu orang-orang yang beriman dan bertaqwa, seperti yang
ditegaskan Allah SWT dalam firmanNya:
"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada
kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu)
orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa. Bagi mereka berita
gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akherat." (QS
Yunus/ 10: 62, 63, 64).
Dimaksudkan dengan wali-wali Allah dalam ayat ini ialah
orang-orang mukmin dan mereka selalu bertaqwa, sebagai sebutan bagi
orang-orang yang membela agama Allah, dan orang-orang yang menegakkan
hukum-hukumNya di tengah-tengah masyarakat, dan sebagai lawan kata dari
orang-orang yang memusuhi agamaNya, seperti orang-orang musyrikin dan orang
kafir.
Dikatakan
tidak ada kekhawatiran bagi mereka, karena mereka yakin bahwa janji Allah
pasti akan datang, dan pertolonganNya tentu akan tiba, serta petunjukNya
tentu membimbing mereka ke jalan yang lurus. Dan apabila ada bencana menimpa
mereka, mereka tetap bersabar menghadapi dan mengatasinya dengan penuh
ketabahan dan tawakkal kepada Allah.
Dan tidak
pula gundah hati, karena mereka telah meyakini dan rela bahwa segala sesuatu
yang bersangkut paut dengan alam dan seluruh isinya tunduk dan patuh di bawah
hukum-hukum Allah dan berada dalam genggamanNya. Mereka tidak gundah hati
lantaran berpisah dengan dunia, karena kenikmatan yang akan diterima di
akherat adalah kenikmatan yang lebih besar. Dan mereka takut akan menerima adzab
Allah di hari pembalasan, karena mereka dan seluruh hatinya telah dibaktikan
kepada agama menurut petunjukNya. Mereka tidak merasa kehilangan sesuatu
apapun, karena telah mendapatkan petunjuk yang tak ternilai
besarnya.
Kemudian
daripada itu Allah SWT menjelaskan siapa yang dimaksud dengan wali-wali Allah
yang berbahagia itu, dan apakah sebabnya mereka itu demikian. Penjelasan yang
didapat di dalam ayat ini; wali itu ialah orang-orang yang beriman dan selalu
bertaqwa. Dimaksud beriman di sini ialah orang yang beriman kepada Allah,
kepada malaikatNya, kepada kitab-kitabNya, kepada Rasul-rasul-Nya, dan kepada
hari qiyamat, dan segala kepastian yang baik dan yang buruk semuanya dari
Allah, serta melaksanakan apa yang seharusnya dilakukan oleh orang-orang yang
beriman. Sedang yang dimaksud dengan bertaqwa ialah memelihara diri dari segala
tindakan yang bertentangan dengan hukum-hukum Allah, baik hukum-hukum Allah
yang mengatur tata alam semesta, ataupun hukum syara' yang mengatur tata hidup
manusia di dunia.
Sesudah
itu Allah SWT menjelaskan bahwa mereka mendapat khabar gembira, yang mereka
dapati di dalam kehidupan mereka di dunia dan kehidupan mereka di akherat.
Khabar gembira yang mereka dapati ini, ialah khabar gembira yang telah
dijanjikan Allah melalui Rasul-Nya. Khabar gembira yang mereka dapatkan di
dunia seperti kemenangan yang mereka peroleh di dalam menegakkan kalimat
Allah, kesuksesan hidup lantaran menempuh jalan yang benar, harapan yang
diperoleh sebagai khalifah di dunia, selama mereka tetap berpegang kepada hukum
Allah dan membela kebenaran agama Allah akan mendapat husnul khatimah. Adapun
khabar gembira yang akan mereka dapati di akherat yaitu selamat dari kubur,
dari sentuhan api neraka dan kekalnya mereka di surga 'Adn. (Al-Quran dan
Tafsirnya, Depag RI, 1985/1986, juz 11, halaman 418-419).
Ada orang
yang mengatakan, bahwa wali Allah itu orang keramat, dapat mengerjakan
perkara-perkara yang ajaib dan aneh, seperti berjalan di atas air, dapat
menerka yang dalam hati orang dan sebagainya. Maka yang demikian itu, bukanlah
menurut istilah Al-Quran, melainkan menurut istilah orang tasauf. Bahkan ada
juga yang disebut wali Allah, orang yang kurang akalnya, dan ganjil
perbuatannya. (Prof Dr H Mahmud Yunus, Tafsir Quran Karim, PT Hidakarya
Agung Jakarta, cetakan ke-27, 1988M/ 1409H, halaman 300).
Jelaslah
bedanya, antara wali Allah menurut Al-Quran, dan wali Allah menurut orang
tasawwuf atau shufi. Orang yang kurang akalnya dan ganjil perbuatannya pun
disebut wali, itu jelas di luar ajaran Al-Quran.
Mafhum
mukhalafahnya (pengertian tersiratnya), ketika orang-orang justru
mengangkat-angkat orang model terakhir itu sebagai wali dan dihormati, bahkan
dijadikan pemimpin yang menentukan urusan orang banyak, boleh diduga keras
bahwa orang-orang itu memang telah lari dari Al-Quran. Dan itulah sebenarnya
bencana bagi ummat Islam. Namun anehnya, di khutbah-khutbah Jum'at atau di
pengajian pun diserukan oleh para khatib --yang model itu-- untuk bersyukur
kepada Allah SWT atas telah dipilihnya orang yang mereka anggap wali --padahal
sebenarnya sama sekali bukan-- itu.
Ya Allah,
tunjukilah hamba-hambaMu yang lemah ini, agar tidak terseret oleh ocehan mereka
yang sangat jauh dari ajaranMu itu.
4. Aqidah
Shufi Mengenai Surga dan Neraka:
Mayoritas
orang shufi (menurut Abdur Rahman Abdul Khaliq, semuanya) berkeyakinan
bahwa menuntut surga merupakan suatu aib besar. Seorang wali tidak boleh
menuntutnya (mencari surga) dan barangsiapa menuntutnya, dia telah berbuat
aib.
Menurut
mereka, yang patut dituntut adalah al-fana' (menghancurkan diri dalam proses
untuk menyatu dengan Allah SWT) yang mereka klaim (dakwakan) terhadap Allah,
dan melihat keghaiban, dan mengatur alam... Inilah surga orang shufi yang
mereka klaim.
Adapun
mengenai neraka, orang-orang shufi berkeyakinan juga bahwa lari darinya itu
tidak layak bagi orang shufi yang sempurna. Karena takut terhadap neraka itu
watak budak dan bukan orang-orang merdeka. Di antara mereka ada yang berbangga
diri bahwa seandainya ia meludah ke neraka pasti memadamkan neraka, seperti
kata Abu Yazid al-Busthami (Parsi, w. 261H/ 874M). Dan orang shufi yang
berkeyakina dengan Wahdatul Wujud (menyatu dengan Tuhan), di antara mereka
ada yang mempercayai bahwa orang-orang yang memasuki neraka akan merasakan
kesegaran dan keni'matannya, tidak kurang dari keni'matan surga, bahkan lebih.
Inilah pendapat Ibnu Arabi dan aqidahnya. (Fadhoihus Shufiyyah, hal 46).
Seperti disebutkan dalam buku Ibnu Arabi, Fushushul Hukm.
Orang
jahil di masa kita sekarang kadang menyangka bahwa aqidah mengenai surga
(model shufi) ini adalah aqidah yang tinggi, yaitu manusia menyembah Allah
tidak mengharapkan surga dan tidak takut neraka. Ini tidak diragukan lagi
(jelas) menyelisihi aqidah kita yang terdapat di dalam Al-Quran dan As-Sunnah.
Allah telah mensifati keadaan para nabi dalam ibadah mereka bahwa:
Mereka berdo'a kepada Kami dengan harap (roghoban)
dan takut (rohaban). Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu'." (QS
Al-Anbiyaa': 90).
Ar-roghob
yaitu mengharapkan surga Allah dan keutamaanNya, sedang ar-rohab yaitu takut
dari siksaNya, padahal para nabi itu mereka adalah sesempurna-sempurnanya
manusia (segi) aqidahnya, keimanannya, dan keadaannya.
Dan
(landasan) dari As-Sunnah: Perkataan seorang Arab Badui kepada Nabi SAW:
"Wallahi, sungguh aku tidak bisa mencontoh dengan baik
bacaan lirihmu (dandanik --suara tak terdengarmu) dan bacaan lirih Mu'adz.
Namun hanya aku katakan, "Ya Allah, aku mohon surga kepadaMu, dan
berlindung kepadaMu dari neraka." Lalu Rasulullah saw berkata: "Sekitar itu
juga bacaan lirih kami." (Hadits Riwayat Ibnu Majah).
Keadaan
yang diupayakan oleh orang-orang shufi untuk diwujudkan yaitu beribadah
kepada Allah tanpa mengharapkan (surga) dan tanpa merasa takut (neraka), maka
menyeret mereka kepada bencana. Mereka berusaha kepada tujuan yang lain dengan
ibadah yaitu yang disebut fana' (meleburkan diri) dengan Tuhan, dan ini
menyeret mereka kepada al-jadzdzab (merasa melekat dengan Tuhan), kemudian
menyeret mereka pula kepada al-hulul (inkarnasi/penjelmaan Tuhan dalam diri
manusia), kemudian menyeret mereka pula pada puncaknya kepada wihdatul wujud
(menyatunya Tuhan dengan hamba/manunggaling kawula Gusti). (As-Shufiyyah
aqidah wa ahdaf, hal 26-27).
5. Aqidah
Shufi Mengenai Iblis dan Fir'aun
Mengenai
iblis, kebanyakan orang shufi, khususnya para penganut kepercayaan wihdatul
wujud, berkeyakinan bahwa iblis adalah hamba yang paling sempurna dan makhluk
yang paling utama tauhidnya. Karena menurut anggapan mereka, iblis tidak mau
sujud kecuali kepada Allah. Dan mereka mengklaim bahwa Allah telah mengampuni
dosa-dosa iblis dan akan memasukkannya ke surga. Demikian pula anggapan mereka,
Fir'aun adalah seutama-utamanya orang yang mentauhidkan (mengesakan) Allah
(muwahhidien). Karena Fir'aun berkata: "Saya adalah Tuhanmu yang tertinggi"
maka ia mengetahui hakekat, karena setiap yang wujud itu adalah Allah, kemudian
dia (Fir'aun) menurut klaim mereka, telah beriman dan masuk surga. (lihat
Syarh Fushushul Hukm, halaman 418, Fadhoihus Shufiyyah,
hal 47,
As-Shufiyyah Aqidah wa Ahdaf, hal 27-28, Al-Fikrus shufi, hal 60).
Tasawuf Belitan Iblis
- H Hartono Ahmad Jaiz –
Kunjungi juga:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar