Jumat, 04 September 2015

Para Ulama membunuh penyebar kesesatan

Bagaimana kalau urusan itu wujudnya bukan satu bangunan namun berupa pemahaman atau sistem berfikir atau cara menafsiri Islam? Para ulama telah memberi contoh nyata. Di antaranya pencetus kesesatan, tokoh sufi/ tasawwuf  Husain bin Manshur  Al-Hallaj diekskusi (hukum mati) di Baghdad tahun 309H/ 922M. karena ia berani menyatakan keyakinannya di depan penguasa bahwa Allah menyatu dengan dirinya, sehingga para ulama yang semasa dengannya menyatakan bahwa telah kafir dan harus dibunuh. 

    Juga Ibnu Arabi telah dikafirkan oleh 37 ulama karena pendapat-pendapatnya yang sangat menyesatkan.
  Ibnu Araby, nama lengkapnya Abu Bakar Muhammad bin Ali Muhyiddin Al-Hatimi  at-Thai al-Andalusi, dikenal dengan Ibnu Arabi (bukan Ibnul Araby yang ahli tafsir). Ibnu Arabi dianggap sebagai tokoh tasawuf falsafi, lahir di Murcia Spanyol, 17 Ramadhan 560 H./ 28 Juli 1165 M.,dan mati di Damaskus, Rabi’ul Tsani 638 H./Oktober 1240 M.

­­     Inti ajarannya didasarkan atas teori wihdatul wujud (menunggaling kawula gusti/menyatunya makhluk dengan Tuhan) yang menghasilkan wihdatul adyan (kesatuan agama, tauhid maupun syirik) sebagai hasil dari gabungan teori-teori al-ittihad (manunggal, melebur jadi satu antara si orang sufi dan Tuhan) dengan mengadakan al-ittishal atau emanasi. Atau sebagai hasil dari gabungan pemikiran tentang teori Nur Muhammadi (yang pertama kali diciptakan adalah  Nur Muhammad, kemudian dari Nur Muhammad itu diciptakan makhluk-makhluk lain) dari Al-Khaliq dengan pemikiran Al-’Aqlu al-Awwal (akal pertama), di situ Ibnu Arabi banyak dipengaruhi oleh filsafat Masehi atau Nashrani.

     Pandangan Ibnu Arabi berkisar pada:
-Berusaha menghancurkan/ membatalkan agama dari dasarnya.
-Semua orang berada pada As-Shiroth Al-Mustaqim (jalan yang lurus).
-Wa’ied (janji) dari Allah tidak ada sama sekali.
-Khatim Al-Awliya’(penutup para nabi), karena wilayah (kewalian) lebih tinggi daripada Nubuwwah (kenabian).

      Dengan pendapatnya-pendapatnya yang menyesatkan itu maka Ibnu Arabi dikafirkan atau dimurtadkan oleh 37 ulama, di antaranya Ibnu Taimiyah (w 728H), Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyah (w 751H),  Qadhi ‘Iyadh (w 744), Al-’Iraqi (w 826), Ibnu Hajar Al-’Asqalani (w 852H), Al-Jurjani (w 814), Izzudddin Ibn Abdissalam (w 660), An-Nawawi (w 676H), Az-Zahabi (w 748H), Al-Bulqini (w 805H)

    Di Indonesia, faham sesat Wihdatul Wujud itu di antaranya dianut dan dikembangkan oleh  Hamzah Fansuri dan Syamsuddin as-Sumatrani. Maka Nuruddin Ar-Raniri (w 21 September 1658) meminta Sultan Aceh Iskandar Sani untuk melarang dan memaksa pengikut ajaran Ibnu Arabi tersebut untuk bertaubat dengan ancaman akan dibunuh dan buku-bukunya dibakar. (lihat Ensiklopedi Islam, hal 48-49).

   Perlu diketahui, faham Suhrawardi al-Maqtul, yang dihukum mati di Aleppo 578H karena ajarannya yaitu bahwa sumber dari segala yang ada ialah cahaya mutlak yang disebut Nural-Anwar yang dianalogikan dengan rahmat Tuhan yang menjadi sumber kejadian alam ruh dan alam materi. Faham campur-campur falsafi ini mirip  dengan faham Nur Muhammad-nya Ibnu Arabi, dan itu mirip faham Logos dari Nasrani. Yaitu tuhan pertama menciptakan tuhan kedua, lalu dari tuhan kedua itulah tercipta seluruh alam. Faham Nurul Anwar -nya Suhrawardi, Nur Muhammad-nya Ibnu Arabi, maupun Logos-nya Nasrani itu jelas berlawanan dengan Tauhid Islam. Namun di Indonesia  dan bahkan kemungkinan di dunia Islam secara luas, berkembang shalawat-shalawat bikinan/ bid’ah (tidak ma’tsur) yang isinya paralel dengan faham yang menyeleweng dari Islam itu. Misalnya, shalawat yang mungkin sekali jadi wiridan sebagian orang Nahdliyin (NU), sebagian penganut habaib, sebagian orang sufi/ tasawuf yaitu:
اللهم صل على نور الأنوار وسر الأسرار.......
Allahumma sholli ‘alaa nuuril anwaar, wa sirril asroor....dst.  Nuril Anwar di situ kemungkinan besar adalah dari faham Suhrawardi, sehingga sama dengan faham Nur Muhammad-nya Ibnu ‘Arabi juga, sesat-sesat juga. Hanya saja kalau faham Nur Muhammad dari kitab Daqoiqul Akhbar itu biasanya mereka siarkan lewat hadits palsu (maudhu’) yang bunyinya;
لولاك لما خلقت الأفلاك.
 Laulaaka lamaa kholaqtul aflaak.  Seandainya bukan karena kamu (wahai Muhammad) maka pasti Aku tidak menciptakan planet-planet ini. Hadits palsu itu sangat laris dipasarkan oleh muballigh-muballigh --baik karena awamnya maupun karena fanatik butanya-- di acara-acara natalan model mereka (Maulid Nabi) yang mereka anggap sebagai bid’ah hasanah.
      


Tasawuf, Pluralisme, & Pemurtadan.
- H Hartono Ahmad Jaiz -

Kunjungi juga:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar