Bagaimana kalau urusan itu wujudnya bukan satu bangunan namun berupa pemahaman
atau sistem berfikir atau cara menafsiri Islam? Para ulama telah memberi contoh
nyata. Di antaranya pencetus kesesatan, tokoh sufi/ tasawwuf Husain bin
Manshur Al-Hallaj diekskusi (hukum mati) di Baghdad tahun 309H/ 922M. karena ia
berani menyatakan keyakinannya di depan penguasa bahwa Allah menyatu dengan
dirinya, sehingga para ulama yang semasa dengannya menyatakan bahwa telah kafir
dan harus dibunuh.
Juga
Ibnu Arabi telah dikafirkan oleh 37 ulama karena pendapat-pendapatnya yang
sangat menyesatkan.
Ibnu
Araby, nama lengkapnya Abu Bakar Muhammad bin Ali Muhyiddin Al-Hatimi at-Thai
al-Andalusi, dikenal dengan Ibnu Arabi (bukan Ibnul Araby yang ahli tafsir).
Ibnu Arabi dianggap sebagai tokoh tasawuf falsafi, lahir di Murcia Spanyol, 17
Ramadhan 560 H./ 28 Juli 1165 M.,dan mati di Damaskus, Rabi’ul Tsani 638
H./Oktober 1240 M.
Inti ajarannya didasarkan atas teori wihdatul wujud (menunggaling kawula
gusti/menyatunya makhluk dengan Tuhan) yang menghasilkan wihdatul adyan
(kesatuan agama, tauhid maupun syirik) sebagai hasil dari gabungan
teori-teori al-ittihad (manunggal, melebur jadi satu antara si orang sufi
dan Tuhan) dengan mengadakan al-ittishal atau emanasi. Atau
sebagai hasil dari gabungan pemikiran tentang teori Nur Muhammadi (yang
pertama kali diciptakan adalah Nur Muhammad, kemudian dari Nur Muhammad
itu diciptakan makhluk-makhluk lain) dari Al-Khaliq dengan pemikiran
Al-’Aqlu al-Awwal (akal pertama), di situ Ibnu Arabi banyak dipengaruhi
oleh filsafat Masehi atau Nashrani.
Pandangan Ibnu Arabi berkisar pada:
-Berusaha
menghancurkan/ membatalkan agama dari dasarnya.
-Semua
orang berada pada As-Shiroth Al-Mustaqim (jalan yang lurus).
-Wa’ied (janji) dari Allah tidak ada sama sekali.
-Khatim Al-Awliya’(penutup para nabi), karena wilayah
(kewalian) lebih tinggi daripada Nubuwwah (kenabian).
Dengan pendapatnya-pendapatnya yang menyesatkan itu maka Ibnu Arabi dikafirkan
atau dimurtadkan oleh 37 ulama, di antaranya Ibnu Taimiyah (w 728H), Ibnu
Al-Qayyim Al-Jauziyah (w 751H), Qadhi ‘Iyadh (w 744), Al-’Iraqi (w 826), Ibnu
Hajar Al-’Asqalani (w 852H), Al-Jurjani (w 814), Izzudddin Ibn Abdissalam (w
660), An-Nawawi (w 676H), Az-Zahabi (w 748H), Al-Bulqini (w 805H)
Di
Indonesia, faham sesat Wihdatul Wujud itu di antaranya dianut dan
dikembangkan oleh Hamzah Fansuri dan Syamsuddin as-Sumatrani. Maka Nuruddin
Ar-Raniri (w 21 September 1658) meminta Sultan Aceh Iskandar Sani untuk melarang
dan memaksa pengikut ajaran Ibnu Arabi tersebut untuk bertaubat dengan ancaman
akan dibunuh dan buku-bukunya dibakar. (lihat Ensiklopedi Islam, hal
48-49).
Perlu
diketahui, faham Suhrawardi al-Maqtul, yang dihukum mati di Aleppo 578H karena
ajarannya yaitu bahwa sumber dari segala yang ada ialah cahaya mutlak yang
disebut Nural-Anwar yang dianalogikan dengan rahmat Tuhan yang menjadi sumber
kejadian alam ruh dan alam materi. Faham campur-campur falsafi ini mirip dengan
faham Nur Muhammad-nya Ibnu Arabi, dan itu mirip faham Logos dari Nasrani. Yaitu
tuhan pertama menciptakan tuhan kedua, lalu dari tuhan kedua itulah tercipta
seluruh alam. Faham Nurul Anwar -nya Suhrawardi, Nur Muhammad-nya Ibnu Arabi,
maupun Logos-nya Nasrani itu jelas berlawanan dengan Tauhid Islam. Namun di
Indonesia dan bahkan kemungkinan di dunia Islam secara luas, berkembang
shalawat-shalawat bikinan/ bid’ah (tidak ma’tsur) yang isinya paralel dengan
faham yang menyeleweng dari Islam itu. Misalnya, shalawat yang mungkin sekali
jadi wiridan sebagian orang Nahdliyin (NU), sebagian penganut habaib, sebagian
orang sufi/ tasawuf yaitu:
اللهم صل على نور الأنوار وسر
الأسرار.......
Allahumma sholli ‘alaa nuuril anwaar, wa sirril
asroor....dst. Nuril Anwar di situ kemungkinan besar
adalah dari faham Suhrawardi, sehingga sama dengan faham Nur Muhammad-nya Ibnu
‘Arabi juga, sesat-sesat juga. Hanya saja kalau faham Nur Muhammad dari kitab
Daqoiqul Akhbar itu biasanya mereka siarkan lewat hadits palsu (maudhu’)
yang bunyinya;
لولاك لما خلقت
الأفلاك.
Laulaaka lamaa kholaqtul aflaak. Seandainya bukan karena kamu
(wahai Muhammad) maka pasti Aku tidak menciptakan planet-planet
ini. Hadits palsu itu
sangat laris dipasarkan oleh muballigh-muballigh --baik karena awamnya maupun
karena fanatik butanya-- di acara-acara natalan model mereka (Maulid Nabi) yang
mereka anggap sebagai bid’ah hasanah.
Tasawuf, Pluralisme, & Pemurtadan.
- H Hartono Ahmad Jaiz -
Kunjungi juga:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar