Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya
yang bernama "Iqtidha ashshirath al mustaqim" cetakan
As Sunnah al Muhammadiyah, hal 70, ketika
menjelaskan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :
“Ada dua perkara terdapat pada manusia, yang
keduanya merupakan suatu kekafiran bagi mereka, yaitu:
mencela keturunan dan meratapi orang mati”.
Ia mengatakan: sabda Nabi “Keduanya merupakan
kekafiran” artinya: kedua sifat ini adalah suatu kekafiran
yang masih terdapat pada manusia, jadi kedua sifat ini
adalah suatu kekafiran, karena sebelum itu keduanya
termasuk perbuatan-perbuatan kafir, tetapi masih terdapat
pada manusia.
Namun, tidak berarti bahwa setiap orang yang
terdapat pada dirinya salah satu bentuk kekafiran dengan
sendirinya menjadi kafir karenanya secara mutlak,
sehingga terdapat pada dirinya hakekat kekafiran. Begitu
pula, tidak setiap orang yang terdapat dalam dirinya salah
satu bentuk keimanan dengan sendirinya menjadi
mu’min.
Penggunaan kata “Al Kufr” dalam bentuk ma’rifah
(dengan kata “Al”) sebagaimana disebut dalam sabda
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :
“Sesungguhnya (batas pemisah) antara seseorang
dengan kemusyrikan dan kekafiran adalah meninggalkan
shalat”. (HR. Muslim, dalam kitab al iman).
Berbeda dengan kata “Kufr” dalam bentuk nakirah
(tanpa kata “Al”) yang digunakan dalam kalimat positif.
Sponsor link:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar