Berhujjah (beralasan) dengan argumen
versi Barat itu keliru, berdasarkan sebab-sebab sebagai
berikut:
1. Karena Barat bukanlah hujjah (alasan)
bagi kita, dan kita tidak diperintahkan untuk menjadikan Barat sebagai ilah
(tuhan) yang disembah, tidak pula sebagai qudwah yang diikuti, "Lakum diinukum
waliya diin."
2. Wanita di Barat itu keluar ke
pabrik-pabrik dan ke super market dan tempat-tempat lainnya karena terpaksa,
bukan karena atas kesadaran. Mereka memerlukan makan yang ini seharusnya menjadi
tanggungan suaminya, mereka hidup di masyarakat yang keras, tidak memiliki kasih
sayang terhadap anak kecil karena kekecilannya, dan tidak pula mempunyai rasa
kasih sayang pada wanita karena kewanitaannya. Sedang Allah telah memberi
kecukupan kepada kita yaitu dengan sistem nafaqat di dalam syari'at
kita.
Ustadz Muhammad Yusuf pernah
mengungkapkan dalam kitabnya, "Islam dan kebutuhan manusia kepadanya" tentang
perhatian Islam terhadap rumah tangga, ia berkata, "Barangkali ada baiknya jika
kita sebutkan di sini bahwa ketika saya tinggal di Perancis ada seorang gadis
wanita yang menjadi pembantu rumah tangga yang aku tinggal sementara di keluarga
itu. Nampaknya gadis itu dari keluarga baik-baik, maka aku bertanya kepada tuan
rumah, "Kenapa gadis ini menjadi pembantu, apakah ia tidak memiliki keluarga
yang dapat menjauhkan ia dari kerja seperti ini dan memenuhi kebutuhannya?" Maka
jawabnya, "la berasal dari keluarga baik-baik di negara ini, pamannya orang yang
kaya raya, tetapi pamannya tidak memperhatikan dan tidak mau tahu dengan
urusannya." Maka saya bertanya, "Mengapa tidak melaporkan permasalahannya ke
pengadilan, agar mendapat dukungan hukum supaya ia memberi nafkah?" Maka tuan
rumah itu terkejut dengan kata-kata itu, dan memberitahu aku bahwa itu tidak
boleh secara hukum. Ketika itu, saya memahamkan kepadanya mengenai hukum Islam
dalam masalah ini, maka tuan rumah itu berkata, "Siapakah yang melindungi kami
dengan aturan seperti itu? Seandainya ini boleh secara hukum di negara kami
niscaya kamu tidak mendapatkan wanita keluar dari rumahnya untuk bekerja di PT,
pabrik, laborat, atau salah satu instansi pemerintahan."31)
Ini berarti, kekhawatiran mereka akan
kelaparan dan kepunahan itulah yang mendorong kaum wanita untuk bekerja dengan
alasan darurat (terpaksa).
3. Sesungguhnya Barat saat ini yang
dijadikan idola telah berubah dan mengeluhkan adanya wanita yang bekerja dan
pengaruh-pengaruhnya. Dan wanita itu sendiri merasa sakit dari cobaan ini, namun
tidak menemukan pilihan lain. Ada seorang penulis terkenal -Ana Roud- mengatakan
dalam suatu makalah yang diedarkan oleh surat kabar Eastern Mill, "Jika
anak-anak perempuan kita itu bekerja di rumah-rumah seperti pembantu, itu lebih
baik dan lebih ringan cobaannya daripada mereka bekerja di pabrik-pabrik, di
mana wanita telah tercemari dengan polusi yang menghilangkan keindahan hidup
mereka untuk selama-lamanya. Mengapa negara kami tidak seperti negara kaum
Muslimin yang penuh dengan kesucian dan kebersihan, di mana pembantu dan budak
bisa menikmati kehidupan dengan sebaik-baiknya dan diperlakukan seperti
anak-anak putrinya sendiri dan tidak dikotori kehormatannya? Sesungguhnya ini
merupakan cacat bagi negara Inggris jika kita menjadikan anak-anak wanita
sebagai umpan kenistaan yaitu dengan banyaknya bergaul dengan kaum pria. Maka
mengapa kita tidak berusaha untuk menjadikan wanita bekerja sesuai dengan
fithrahnya seperti mengurusi rumah tangga dan meninggalkan pekerjaan laki-laki
untuk laki-laki demi keselamatan kehormatannya?"32)
4. Sesungguhnya kemaslahatan masyarakat
itu bukanlah wanita harus meninggalkan risalahnya yang utama yaitu di dalam
rumah, untuk beralih bekerja sebagai insinyur atau pengacara atau menjadi
anggota DPR atau hakim atau buruh di pabrik. Tetapi kemaslahatan itu adalah
hendaknya wanita bekerja sesuai dengan bidang kekhususannya yang terkait dengan
fitrahnya yaitu sebagai isteri dan ibu yang tidak kalah pentingnya, bahkan lebih
penting daripada bekerja di super market pabrik-pabrik dan
kantor-kantor.
Napoleon pernah ditanya, "Benteng
manakah di Perancis yang paling kuat?" Ia menjawab, "Para ibu yang
baik."
Orang-orang yang mengatakan bahwa
sesungguhnya wanita yang tinggal di rumah itu menganggur adalah bodoh atau
berpura-pura bodoh sebagaimana dikatakan oleh para wanita mulia. Karena begitu
banyaknya pekerjaan rumah tangga yang menyita seluruh waktunya, bahkan hampir
tidak cukup. Maka jika ada sebagian wanita yang memiliki waktu lebih, hendaklah
kita beri tahu agar digunakan untuk menjahit atau membordir atau pekerjaan lain
yang tidak bertentangan dengan kewajibannya di rumah. Mungkin juga dengan
bekerja sama dengan perusahaan atau instansi tertentu dengan memperoleh upah
dari mereka sedang ia menyelesaikan pekerjaannya di rumah. Atau berkhidmah
kepada masyarakatnya dan orang-orang wanita sejenisnya, serta ikut andil dalam
memerangi kemiskinan, kebodohan, penyakit dan kerendahan. Kenyataannya banyak
dari kalangan wanita yang bekerja mempergunakan wanita lainnya untuk bekerja
sebagai pembantu yang merawat anak-anaknya. Artinya bahwa rumah memerlukan
seorang wanita yang merawatnya dan yang paling mulia adalah pemiliknya sendiri,
daripada wanita lain yang sering berbeda akhlaqnya, agamanya, bahasanya,
pemikiran dan tradisinya. Sebagaimana umumnya di negara-negara teluk yang
mendatangkan para pembantu rumah tangga dari timur jauh yang tentunya membawa
dampak negatif bagi anak-anak mereka.
5. Sebagaimana kebahagiaan berumah
tangga bukanlah sekedar tambahnya pemasukan yang sebagian besar dipergunakan
untuk membeli peralatan dan hiasan rumah, baju untuk keluar dan beban hidup yang
beraneka ragam yang cenderung dibuat-buat untuk berlomba dari sisi materi.
Selain bertambahnya fasilitas rumah telah kehilangan ketenangan dan keharmonisan
yang sering dirasakan oleh wanita di tengah-tengah hidup berumah tangga. Adapun
wanita yang bekerja, badannya lelah, perasaannya stress, karena dirinya sendiri
memerlukan seseorang yang dapat menghiburnya. Padahal orang yang kehilangan
sesuatu tidak mungkin bisa memberi sesuatu itu.
6. Sesungguhnya kemaslahatan wanita
bukanlah terletak pada keluarnya wanita itu dari fitrahnya dan tugas khususnya
atau mengharuskan wanita untuk bekerja seperti laki-laki, karena Allah telah
menciptakan ia sebagai wanita. Ini berarti membohongi wanita dan realita,
padahal wanita telah kehilangan kewanitaannya secara bertahap, sampai
diistilahkan oleh sebagian penulis dari lnggris dengan istilah "Seks yang
ketiga." Inilah yang diakui oleh kebanyakan wanita dari para pemberani di bidang
sastra.
7. Suatu anggapan bahwa bekerja
merupakan senjata di tangan wanita! ini tidak benar menurut kita ummat Islam.
Karena wanita dalam Islam dicukupi kebutuhannya dengan aturan nafkah yang wajib
secara syar'i bagi ayahnya atau suaminya, atau anak-anaknya atau saudaranya atau
kerabat lainnya. Dan taqlid terhadap Barat itu mulai menjauhkan kita dari
karakter kita sedikit demi sedikit.
Sistem Masyarakat Islam dalam Al Qur'an & Sunnah
Oleh: DR. Yusuf Al-Qardhawi
Kunjungi juga:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar