Senin, 10 Agustus 2015

Beberapa Sanggahan terhadap Syubhat Argumen Barat

Berhujjah (beralasan) dengan argumen versi Barat itu keliru, berdasarkan sebab-sebab sebagai berikut:

1. Karena Barat bukanlah hujjah (alasan) bagi kita, dan kita tidak diperintahkan untuk menjadikan Barat sebagai ilah (tuhan) yang disembah, tidak pula sebagai qudwah yang diikuti, "Lakum diinukum waliya diin."
2. Wanita di Barat itu keluar ke pabrik-pabrik dan ke super market dan tempat-tempat lainnya karena terpaksa, bukan karena atas kesadaran. Mereka memerlukan makan yang ini seharusnya menjadi tanggungan suaminya, mereka hidup di masyarakat yang keras, tidak memiliki kasih sayang terhadap anak kecil karena kekecilannya, dan tidak pula mempunyai rasa kasih sayang pada wanita karena kewanitaannya. Sedang Allah telah memberi kecukupan kepada kita yaitu dengan sistem nafaqat di dalam syari'at kita.

Ustadz Muhammad Yusuf pernah mengungkapkan dalam kitabnya, "Islam dan kebutuhan manusia kepadanya" tentang perhatian Islam terhadap rumah tangga, ia berkata, "Barangkali ada baiknya jika kita sebutkan di sini bahwa ketika saya tinggal di Perancis ada seorang gadis wanita yang menjadi pembantu rumah tangga yang aku tinggal sementara di keluarga itu. Nampaknya gadis itu dari keluarga baik-baik, maka aku bertanya kepada tuan rumah, "Kenapa gadis ini menjadi pembantu, apakah ia tidak memiliki keluarga yang dapat menjauhkan ia dari kerja seperti ini dan memenuhi kebutuhannya?" Maka jawabnya, "la berasal dari keluarga baik-baik di negara ini, pamannya orang yang kaya raya, tetapi pamannya tidak memperhatikan dan tidak mau tahu dengan urusannya." Maka saya bertanya, "Mengapa tidak melaporkan permasalahannya ke pengadilan, agar mendapat dukungan hukum supaya ia memberi nafkah?" Maka tuan rumah itu terkejut dengan kata-kata itu, dan memberitahu aku bahwa itu tidak boleh secara hukum. Ketika itu, saya memahamkan kepadanya mengenai hukum Islam dalam masalah ini, maka tuan rumah itu berkata, "Siapakah yang melindungi kami dengan aturan seperti itu? Seandainya ini boleh secara hukum di negara kami niscaya kamu tidak mendapatkan wanita keluar dari rumahnya untuk bekerja di PT, pabrik, laborat, atau salah satu instansi pemerintahan."31)  

Ini berarti, kekhawatiran mereka akan kelaparan dan kepunahan itulah yang mendorong kaum wanita untuk bekerja dengan alasan darurat (terpaksa).

3. Sesungguhnya Barat saat ini yang dijadikan idola telah berubah dan mengeluhkan adanya wanita yang bekerja dan pengaruh-pengaruhnya. Dan wanita itu sendiri merasa sakit dari cobaan ini, namun tidak menemukan pilihan lain. Ada seorang penulis terkenal -Ana Roud- mengatakan dalam suatu makalah yang diedarkan oleh surat kabar Eastern Mill, "Jika anak-anak perempuan kita itu bekerja di rumah-rumah seperti pembantu, itu lebih baik dan lebih ringan cobaannya daripada mereka bekerja di pabrik-pabrik, di mana wanita telah tercemari dengan polusi yang menghilangkan keindahan hidup mereka untuk selama-lamanya. Mengapa negara kami tidak seperti negara kaum Muslimin yang penuh dengan kesucian dan kebersihan, di mana pembantu dan budak bisa menikmati kehidupan dengan sebaik-baiknya dan diperlakukan seperti anak-anak putrinya sendiri dan tidak dikotori kehormatannya? Sesungguhnya ini merupakan cacat bagi negara Inggris jika kita menjadikan anak-anak wanita sebagai umpan kenistaan yaitu dengan banyaknya bergaul dengan kaum pria. Maka mengapa kita tidak berusaha untuk menjadikan wanita bekerja sesuai dengan fithrahnya seperti mengurusi rumah tangga dan meninggalkan pekerjaan laki-laki untuk laki-laki demi keselamatan kehormatannya?"32)
 
4. Sesungguhnya kemaslahatan masyarakat itu bukanlah wanita harus meninggalkan risalahnya yang utama yaitu di dalam rumah, untuk beralih bekerja sebagai insinyur atau pengacara atau menjadi anggota DPR atau hakim atau buruh di pabrik. Tetapi kemaslahatan itu adalah hendaknya wanita bekerja sesuai dengan bidang kekhususannya yang terkait dengan fitrahnya yaitu sebagai isteri dan ibu yang tidak kalah pentingnya, bahkan lebih penting daripada bekerja di super market pabrik-pabrik dan kantor-kantor.

Napoleon pernah ditanya, "Benteng manakah di Perancis yang paling kuat?" Ia menjawab, "Para ibu yang baik."

Orang-orang yang mengatakan bahwa sesungguhnya wanita yang tinggal di rumah itu menganggur adalah bodoh atau berpura-pura bodoh sebagaimana dikatakan oleh para wanita mulia. Karena begitu banyaknya pekerjaan rumah tangga yang menyita seluruh waktunya, bahkan hampir tidak cukup. Maka jika ada sebagian wanita yang memiliki waktu lebih, hendaklah kita beri tahu agar digunakan untuk menjahit atau membordir atau pekerjaan lain yang tidak bertentangan dengan kewajibannya di rumah. Mungkin juga dengan bekerja sama dengan perusahaan atau instansi tertentu dengan memperoleh upah dari mereka sedang ia menyelesaikan pekerjaannya di rumah. Atau berkhidmah kepada masyarakatnya dan orang-orang wanita sejenisnya, serta ikut andil dalam memerangi kemiskinan, kebodohan, penyakit dan kerendahan. Kenyataannya banyak dari kalangan wanita yang bekerja mempergunakan wanita lainnya untuk bekerja sebagai pembantu yang merawat anak-anaknya. Artinya bahwa rumah memerlukan seorang wanita yang merawatnya dan yang paling mulia adalah pemiliknya sendiri, daripada wanita lain yang sering berbeda akhlaqnya, agamanya, bahasanya, pemikiran dan tradisinya. Sebagaimana umumnya di negara-negara teluk yang mendatangkan para pembantu rumah tangga dari timur jauh yang tentunya membawa dampak negatif bagi anak-anak mereka.

5. Sebagaimana kebahagiaan berumah tangga bukanlah sekedar tambahnya pemasukan yang sebagian besar dipergunakan untuk membeli peralatan dan hiasan rumah, baju untuk keluar dan beban hidup yang beraneka ragam yang cenderung dibuat-buat untuk berlomba dari sisi materi. Selain bertambahnya fasilitas rumah telah kehilangan ketenangan dan keharmonisan yang sering dirasakan oleh wanita di tengah-tengah hidup berumah tangga. Adapun wanita yang bekerja, badannya lelah, perasaannya stress, karena dirinya sendiri memerlukan seseorang yang dapat menghiburnya. Padahal orang yang kehilangan sesuatu tidak mungkin bisa memberi sesuatu itu.

6. Sesungguhnya kemaslahatan wanita bukanlah terletak pada keluarnya wanita itu dari fitrahnya dan tugas khususnya atau mengharuskan wanita untuk bekerja seperti laki-laki, karena Allah telah menciptakan ia sebagai wanita. Ini berarti membohongi wanita dan realita, padahal wanita telah kehilangan kewanitaannya secara bertahap, sampai diistilahkan oleh sebagian penulis dari lnggris dengan istilah "Seks yang ketiga." Inilah yang diakui oleh kebanyakan wanita dari para pemberani di bidang sastra.

7. Suatu anggapan bahwa bekerja merupakan senjata di tangan wanita! ini tidak benar menurut kita ummat Islam. Karena wanita dalam Islam dicukupi kebutuhannya dengan aturan nafkah yang wajib secara syar'i bagi ayahnya atau suaminya, atau anak-anaknya atau saudaranya atau kerabat lainnya. Dan taqlid terhadap Barat itu mulai menjauhkan kita dari karakter kita sedikit demi sedikit.


Sistem Masyarakat Islam dalam Al Qur'an & Sunnah
Oleh: DR. Yusuf Al-Qardhawi

Kunjungi juga:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar