Bagaimana dengan konsep poligami yang
ada pada realitas kehidupan orang-orang Barat, yang ditentang oleh salah satu
penulis dari kalangan mereka? Ada seseorang yang ketika berada di ambang
kematian, dia mengungkapkan pengakuannya kepada dukun. Penulis itu menentang
mereka jika ada salah satu di antara mereka yang tidak mau menyatakan
pengakuannya bahwa ia pernah menjalin hubungan dengan seorang wanita walaupun
hanya sekali dalam hidupnya.
Sesungguhnya poligami di kalangan
orang-orang Barat seperti yang digambarkan di atas merupakan perilaku hidup yang
tidak diatur oleh undang-undang. Mereka tidak menamakan wanita yang dikumpulinya
sebagai isteri, tetapi mereka menamakannya sahabat atau pacar (teman kencan).
Mereka tidak membatasi hanya empat orang, tetapi sampai batas yang tak
terhitung. Mereka tidak berterus-terang kepada keluarganya, tetapi melakukan
semuanya secara sembunyi-sembunyi. Mereka tidak mau bertanggung jawab atas biaya
untuk para wanita yang pernah dijalininya, bahkan seringkali mengotori
kehormatannya, kemudian ia tinggalkan dalam kehinaan dan memikul beban sakitnya
mengandung dan melahirkan yang tidak halal.
Sesungguhnya mereka tidak mengharuskan
pelaku poligami untuk mengakui anak yang diperoleh dari hubungannya dengan
wanita, tetapi anak-anak itu dianggap anak haram yang menanggung sendiri
kehinaan selama hidup.
lnilah praktek poligami yang mereka
namakan sah secara hukum. Dan mereka tidak mau menamakan ini semua dengan
istilah poligami. Praktek seperti ini jauh dari perilaku moral atau kesadaran
hati atau perasaan manusiawi.
Sesungguhnya itu merupakan poligami yang
memperturutkan syahwat dan egoisme dan membuat orang lari dari segala tanggung
jawab. Maka dari dua sistem tersebut, sistem manakah yang paling bermoral, lebih
bisa mengendalikan syahwat, lebih menghargai wanita dan yang lebih membuktikan
kemajuan serta lebih baik untuk manusia?
Sistem Masyarakat Islam dalam Al Qur'an & Sunnah
Oleh: DR. Yusuf Al-Qardhawi
Kunjungi juga:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar